Startup AI lebih pilih pria Silicon Valley bergelar tinggi, kurangi peluang talenta entry-level.

Perusahaan teknologi besar seperti Meta dan Google terkenal karena merekrut lulusan baru dengan gaji besar, mencapai ratusan juta rupiah per tahun. Tapi sekarang, perusahaan rintisan AI justru lebih sering menolak anak muda dan memilih pekerja yang sudah berpengalaman.

Menurut peneliti dari Harvard Business School dan INSEAD, perusahaan rintisan yang fokus pada AI membentuk tim yang lebih kecil dan rata, dengan jumlah karyawan entry-level yang lebih sedikit daripada perusahaan non-AI. Hasil studi menunjukkan bahwa perusahaan seperti ini mempekerjakan sekitar 15% lebih sedikit pekerja muda dibandingkan perusahaan rintisan biasa.

Pekerja di perusahaan AI-native biasanya pria, punya gelar lanjutan, dan pernah bekerja di tempat atau institusi terkenal. Mereka juga banyak yang tinggal di Silicon Valley.

Meskipun punya tim lebih kecil, perusahaan rintisan AI ternyata bisa sukses. Jumlah karyawan senior di perusahaan ini sekitar 20% lebih tinggi dibanding perusahaan lain. tetapi hirarki mereka lebih datar karena manajer lebih sedikit. Fokus perusahaan ada pada pekerjaan teknis: jumlah insinyur di perusahaan AI naik 13%. Perusahaan AI juga bisa mendapat dana sebesar 20% lebih banyak per karyawan.

Jika investor terus memberikan uang ke perusahaan AI kecil dengan karyawan senior, maka kesempatan bagi pekerja pemula makin sedikit.

Selama bertahun-tahun, wajah teknologi identik dengan anak muda seperti Bill Gates atau Mark Zuckerberg yang memulai pada usia sangat muda. Tapi sekarang sangat berbeda. Riset dari perusahaan Pave menunjukkan pekerja muda usia 21-25 tahun di perusahaan teknologi menurun drastis. Di perusahaan publik besar, jumlah mereka turun dari 15% di 2023 menjadi 6,8% di tahun 2025.

Kondisi yang sama juga terjadi di perusahaan teknologi swasta. Di sisi lain, umur rata-rata karyawan naik signifikan. Di perusahaan publik menngkat dari 34,3 tahun ke 39,4 tahun dan yang swasta naik dari 35,1 tahun ke 36,6 tahun.

MEMBACA  Kemitraan Morris dan UFlex Meluncurkan Seruan Anyar Tas Anyaman

Menurut CEO Pave, orang di usia 35 atau 40 sudah pasti punya keterampilan yang tidak terkalahkan dengan mudah oleh AI. Tapi seorang anak berumur 22 tahun yang kemampuan utamanya bisa diganti AI, sekarang menjadi lebih terantang. “Jadi, kasihan sekali bagii pekerja muda jika kemampuan tidak terus diperbarui,” katanya.

Tinggalkan komentar