Semua Orang Menyalahkan AI atas Matinya ‘Keahlian.’ Lihatlah ke Dalam Diri

Semua orang nyalahin AI atas matinya kerajinan. Musik jadi generik. Baju gampang robek. Perabotan cuma pake sekali. Dan di suatu tempat di Silicon Valley, algoritma yang melakukanya. Tapi sebenernya enggak—mereka nggak sendirian, lah. Coba lihat diri lo di cermin.

Kita milih kecepatan di atas kualitas. Kita hadiahin opsi termurah. Kita klik lewat barang handmade demi beli yang bisa sampe besok. Kita optimasi semuanya, sampai jiwa merek kita ilang. AI nggak bunuh kerajinan. Kita biarin dia mati—lalu kasih AI sekopnya.

Sebagai orang yang mau ganti mesin cuci piring “mewah” ketiga kalinya dalam sepuluh tahun, masalah ini berasa banget pribadi. Tapi sebagai pimpinan agensi, aku juga liat hal ini dalam pembangunan merek modern—kematian sunyi dari pengabdian industri kita pada kerajinan. Dan ini bukan cuma soal bahan, pencahayaan, kamera, tulisan, desain, atau elemen kreatif lain. Yang lagi sekarat—mungkin nggak pernah dipupuk banyak perusahaan—adalah pembungkus kerajinan yang menghidupkan cerita di belakang sebuah merek atau produk: arti yang diciptakan dalam hidup pelanggan. Penting banget buat merek, kayak seni itu penting buat kerajinan barang buatan tangan.

Yang ilang adalah elemen manusia—bagian yang kasih rasa ke merek, produk, layanan, dan banget marketing. Kitalah yang bisa ngerasain mana barang ten dibuat orang peduli dan mana ngga. Kejugan kerajinan ini parah nyaeh—kas nengg inding lak berani kear horm. Padahal ini be teung ambangan bais pentengai geg mendere apasole dika berk bubens eek kape de pad dasne bos geg buogundesa so dergan dah sol sun sen nepe das deh eaun dec no den se ho

MEMBACA  Cantor Fitzgerald Naikkan Target Saham Texas Instruments (TXN), Prospek Laba Dinilai Seimbang

Tinggalkan komentar