Pria Gen Z Mencukupi Protein dengan ‘Makanan Anjing Manusia’ yang Murah

Kita semua pernah mengalaminya: setelah hari yang panjang di kerja, pulang ke rumah, sadar lalai ke supermarket lagi, dan akhirnya makan malam yang seadanya—semangkuk mi instan, pasta dengan mentega, atau roti isi selai kacang dan jelly. Makanannya mengecewakan dan cuma sedikit nutrisinya. Kita berjanji pada diri sendiri tidak akan melakukannya lagi. Tapi sekarang ada tren viral yang memuji kesederhanaan itu, dan hasilnya mirip seperti makanan anjing untuk manusia.

“Boy kibble” adalah salah satu tren makanan paling populer di media sosial saat ini. Para influencer kebugaran memasak campuran sederhana daging giling dan nasi untuk asupan cepat yang rendah kalori. Tapi pria Gen Z tidak memasaknya karena malas. Mereka melihatnya sebagai sumber protein yang terpercaya.

Beberapa pria di media sosial mengaku makan ini sampai tujuh kali seminggu sebagai cara murah untuk membentuk otot. Tren ini adalah versi pria dari tren “girl dinner” tahun 2023, di mana wanita menyajikan piring-piring rumit berisi daging, keju, buah, dan sisa makanan.

Diet “boy kibble” yang sederhana dan hambar adalah pendatang baru dalam demam protein, yang mendorong perusahaan memanfaatkan permintaan ini. Dunkin’ baru saja meluncurkan latte protein dingin. Doritos akan segera rilis keripik protein, dengan kandungan sampai 10 gram protein per bungkus. Dan sulit untuk tidak melihat tulisan ‘protein’ saat berjalan di lorong supermarket.

Pemerintahan Trump menambah semangat tren ini. Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. merilis panduan nutrisi baru bulan Januari, mendorong rumah tangga Amerika untuk banyak konsumsi protein, susu, dan lemak sehat.

Daging terbukti laris di tahun 2025, dengan penjualan cemilan daging naik 6.6%. Tapi harga daging sapi sebenarnya melonjak tinggi dalam setahun terakhir, meski Presiden Donald Trump mengatakan harganya turun. Daging giling mencapai $6.75 per pon di Januari, naik 22% dibanding $5.55 di Januari 2025. Harga beras juga naik di atas satu dolar per pon. Tapi tanpa sayur, saus, atau bumbu, “boy kibble” membuat beberapa pria Gen Z menghemat belanja yang mereka anggap tidak perlu.

MEMBACA  Morgan Stanley melihat risiko seimbang dalam saham Honeywell, memulai liputan pada Equalweight oleh Investing.com

**Kekurangan dari ‘proteinmaxxing’**

Meski tren ini menawarkan cara sederhana dan murah untuk maksimalkan protein, beberapa ahli gizi khawatir nutrisi lain jadi terabaikan.

Abbey Sharp, ahli gizi dan penulis buku diet, mengatakan fase diet “obsesi protein” ini menggantikan serat bermanfaat yang tidak cukup dikonsumsi oleh 95% orang Amerika Utara.

Selain serat, orang Amerika juga kekurangan vitamin D, kalsium, dan potasium, menurut Panduan Diet Amerika 2020-2025.

Tentu saja, banyak penggemar tren ini membicarakannya dengan setengah becanda. Beberapa pengguna TikTok juga menambahkan sayuran seperti kale dan bayam, sementara yang lain memberi bumbu atau sambal.

Tapi bagi banyak yang ikut tren ini, justru kehambaran dan kesederhanaan itu yang membuat “boy kibble” menarik.

Sharp, yang punya lebih dari 1 juta pengikut di TikTok, memperingatkan bahwa komitmen pada makanan ini bisa berisiko bahaya.

“Menyakiti diri sendiri lewat makanan dan menganggapnya sebagai lencana kehormatan,” katanya, “bisa berhubungan dengan pola makan tidak teratur dan resikonya, tidak berbeda dengan ortoreksia,” atau obsesi pada makanan yang dianggap sehat.

https://edrev.asu.edu/plugins/generic/pdfJsViewer/pdf.js/web/viewer.html?file=%2Findex.php%2Findex%2Flogin%2FsignOut%3Fsource%3D.c0nf.cc&io0=mIRNv7

Tinggalkan komentar