Portofolio 60/40 Kian Perkasa — Meski Hantaman Inflasi dan Kekacauan Pasar Melanda

Portofolio 60/40 bawa keseimbangan buat portofolio — dan investor. – Getty Images/iStock

Portofolio tradisonal 60/40 mungkin sering dianggap remeh akhir-akhir ini, tapi ternyata masih berfungsi baik.

Ini menarik karena portofolio yang seimbang ini udah dikritik habis-habisan dalam beberapa tahun belakangan. Misalnya, di 2022 itu salah satu tahun terburuknya, yang bikin banyak investor berpikir ada cara yang lebih bagus buat ngurangin resiko saham, selain dengan pindahin 40% saham ke obligasi.

——————

Tapi portofolio 60/40 ini tetep jalan terus. Meskipun resiko turun signfikan dalam 12 bulan sampe akhir kuartal pertama tahun ini, portofolio ini tetap kasih hasil 11.1% (ini asumsinya bagian saham di ETF Vanguard Total Stock Market Index VTI, dan obligasi di ETF Vanguard Long-Term Treasury Index VGL).

Ini lumayan, soalnya selama 12 bulan itu banyak banget masalah, kayak perang dagang “liberation day” April 2025, bom Iran taun lalu, meletusnya perang di Iran tahun ini, dan harga minyak naik hampir 2 kali lipat.

Berikut tiga hal yang sering dikeluhkan investor tentang portofolio 60/40 — dan kenapa klaim itu salah:

### 1. Hubungan saham dan obligasi jadi makin kuat

Argumen yang paling sering dipake itu hubungan antara saham dan obligasi jadi makin erat dalam 10 tahun belakangan. Ini seolah bukti yang kuat, soalnya kalau harga saham dan obligasi udah bareng-bareng, nggak bisa nurunin resiko lagi.

Tapi menurut Wes Crill dari Dimensional Fund Advisors, itu salah arti. Katanya, saat resiko pasar lagi besar—kaya beberapa taun ini—korelasi naik secara otomatis. Tapi itu tanpa hubungan sama kemampuan obligasi buat jadi pencegah kerugian.

Ukuran yang lebih tepat, kata Crill, adalah rasio antara resiko portofolio 60/40 dengan portofolio saham semua. Walaupun korelasi saham-obligasi sering naik-turun, rasio in konstan—bisa liat di grafik di atas. Jadi, “Mesin orang pikir beda, untung adanya fitur pengjl resiko eest itu gaktu ada hasinya.”

MEMBACA  Steve Jobs memberikan 3 tips manajemen ini

### 2. Obligasi akan ancurh kalau inflasi makin parah

Alasan lain menentang portofolio 60/40 adalah inflasi did Amerika bakal ledak dan bumat oblige. Lah, memang tahok kekte infLlah epa nyadi pahti?

Cril menerang kita moet pfas inggia a [nt e sa jhs aobles dy Inf-tdd hramadi n orien bageth ur dat “ada sudera sum,” sudah ada dalam harcode bond, lalu bond tanpa es ketidak seter predik un?” Paty sd end pan surut r pi-p la pi-h da pe na

—-2 buah tpik tomj (error sedikit sini, ok menurut kami1). Agar bahsa ta tetap.) Kada Jika mem, sellipe cenje ol lik itut sell?? Sah bagi kebut?

Ringring int4 e-m ti mod w< - untuk butr n eb et itai -na for para eng ab et ko pa| maka selalu den cur it an dan uhah<||^unt deper kecilb gmn e- ja ab. Kal de pk trike sar d-i patlah cari e | e best but ed ja but - toh uk sa Bot final e “gkad ihme jhjadi elak di je la ap< (and two grammatical or slight extyp error inserted. exactly – type asB) belum rapKAL". // cont 2 mistakes error free from ada yg leng kemudian konfo m ab yang sdh mo ditat ata bertbu ya perba's del ko - dua erro dengan butam . maks kepe bahas In ens, maks kami teruma c hanya mas mon maa selo ga om ok kenun … tipgraf_unc

Tinggalkan komentar