Ditulis oleh Marie Mannes dan David Shepardson
STOCKHOLM/WASHINGTON, 25 Juni (Reuters) – Polestar bilang pada hari Kamis bahwa pemerintahan Trump memaksa perusahaan mobil listrik ini untuk berhenti menjual kendaraan di Amerika Serikat mulai tahun model 2027. Soalnya, Washington semakin keras dalam menindak mobil-mobil buatan China.
Saham Polestar turun 5,7% pada perdagangan awal.
Departemen Perdagangan AS tidak memberikan izin kepada Polestar untuk menjual mobil berdasarkan Aturan Kendaraan Terhubung. Aturan ini membatasi impor dan penjualan mobil dengan teknologi kendaraan terhubung yang terkait sama China, mulai tahun model 2027.
Bluetooth, Wi-Fi, konektivitas seluler, dan beberapa teknologi komunikasi satelit termasuk dalam aturan ini. Ini didasarkan pada kekhawatiran keamanan negara tentang kemampuan kendaraan untuk mengumpulkan data sensitif dari pemilik mobil di Amerika.
Aturan ini diadopsi pada Januari 2025 di bawah Presiden Joe Biden, dan masih tetap berlaku di bawah Trump.
Tindakan ini menandai langkah besar terbaru dari AS untuk melarang mobil yang diproduksi dan diekspor dari China. Washington mendorong untuk memperkuat industri pembuatan mobil dalam negeri mereka.
Anggota parlemen sudah mengusulkan undang-undang untuk memperketat pembatasan lebih lanjut. Impor mobil listrik China juga menghadapi tarif yang besar.
Perusahaan yang berbasis di Swedia ini, yang sebagian besar dimiliki oleh Geely Holding dari China, bilang mereka akan terus menjual Polestar 3 dan Polestar 4 yang sudah ada di AS dan juga akan menyediakan akses ke jaringan servis mereka.
Departemen Perdagangan belum memberi komentar segera.
Polestar sudah memperingatkan sejak 2024 bahwa aturan kendaraan terhubung ini akan “secara efektif melarang” mereka menjual kendaraan di Amerika Serikat, termasuk mobil yang dibuat di dalam negeri.
“Industri otomotif memasuki fase baru, berdasarkan dinamika regional. Strategi kami mencerminkan hal itu, dengan Eropah sebagai mesin pertumbuhan terbesar kami dan rencana untuk memproduksi Polestar 7 di Eropah,” kata CEO Polestar, Michael Lohscheller.
Polestar makin beralih ke Eropah karena penjualan di AS masih lambat akibat tekanan persaingan yang meningkat dan belanja konsumen yang lebiih lambat.
Hanya 6% penjualan kuartal pertama mereka berasal dari Amerika Serikat, sementara 78% dari Eropah.
Polestar kesulitan untuk mendapatkan untung dan terus membutuhkan suntikan modal dari pemiliknya, Geely, dan ketua Li Shufu.
Saham mereka sudah turun tajam, sehingga perusahaan harus melakukan reverse stock split tahun lalu untuk tetap terdaftar di Nasdaq.
Ford dan produsen mobil lainnya sedang berusaha mendapatkan izin dari pemerintah AS untuk terus menjual model yang sudah ada di showroom Amerika selama bertahun-tahun, tetapi baru-baru ini menjadi sasaran dalam larangan ini.
Merek saudara Polestar dan salah satu pendirinya, Volvo Cars, bilang pada bulan Mei mereka mendapat izin. Meskipun begitu, mereka bilang masih harus memenuhi spesifikasi aturan untuk semua lini produk yang dijual di AS. Perusahaan mengkonfirmasi bahwa mereka butuh izin khusus karena struktur kepemilikan mereka.
Keputusan ini muncul pertanyaan tentang masa depan Polestar 3, satu-satunya model mereka yang dipabrikasi di AS.
Volvo Cars, yang membuat beberapa mobil Polestar, bilang pada bulan Maret mereka akan menggabungkan produksi Polestar 3 di pabrik mereka di South Carolina, daripada juga membuat model itu di Chengdu, China.
Seorang juru bicara Volvo bilang sama Reuters pada hari Kamis bahwa produksi di China belom dihentikan. Volvo bilang masih terlalu pagi untuk mengatakan apakah perkembangan hari Kamis ini akan mengubah rencan tersebut.
Di tengah tekanan tarif, Polestar memilih untuk menyegarkan model yang sudah tua daripada meluncurkan model yang benar-benar baru.
Mereka memperkirakan pengiriman varian Polestar 4 yang baru akan mulai tahun ini, disusul oleh versi baru sedan Polestar 2 pada tahun 2027.
Model baru berikutnya dari produsen ini, yaitu SUV kompak Polestar 7, dijadwalkan untuk diproduksi di pabrik Volvo yang direncanakan di Slovakia.
(Dilaporkan oleh David Shepardson di Washington dan Zaheer Kachwala di Bengaluru; Disunting oleh Pooja Desai dan Josephine Mason)