Mungkin kamu lebih untung dari anak-anak jenius yang bikin kamu merasa tidak mampu waktu sekolah dulu.
Walau ada orang-orang luar biasa kayak Mozart, sebuah analisis dari 19 studi yang melibatkan 34.000 orang sukses di berbagai bidang — termasuk peraih Nobel, pemain catur top, juara Olimpiade, dan musisi elite — menemukan bahwa orang yang mencapai puncak prestasi saat kecil tidak selalu jadi orang yang sukses tinggi di masa dewasa.
Laporan yang terbit di jurnal Science itu bilang, “Di tingkat pencapaian dewasa tertinggi, puncak prestasi justru berbanding terbalik dengan prestasi awal.”
Para peneliti menyoroti bahwa anak jenius seringkali hanya fokus pada satu bidang saja sejak dini. Sementara itu, orang yang suksesnya telat justru meraih kesuksesan di berbagai bidang.
Studi ini memberi pandangan penting tentang asal-usul pengetahuan elite. Banyak orang tua mungkin mengira bahwa mengkhususkan anak sejak dini akan menyiapkan mereka untuk karier sukses, tetapi penelitian terbaru menunjukkan hal berbeda. Pengembangan fokus bidang tertentu sejak dini bisa beri kesuksesan jangka pendek. Tapi, kesuksesan jangka panjang lebih sering ditemui pada mereka yang berkembang belakangan.
“Pemain catur top-10 dunia usia muda dan pemain catur top-10 dunia saat dewasa, hampir 90% adalah orang yang berbeda,” tulis peneliti. Ini menunjukkan bahwa mereka yang berkembang awal cenderung tidak mencapai puncak kesuksesan di waktu yang sama dengan mereka yang berkembang belakangan. Juga berarti anak jenius dan yang suksesnya telat berkembang dengan cara berbeda dan tumbuh menjadi orang yang pada dasarnya berbeda.
Memang, anak berbakat biasanya sukses saat dewasa. Sebuah studi tahun 2023 menemukan bahwa mantan anak jenius cenderung mendapat penghasilan lebih tinggi dan lebih sukses secara karier dibanding rata-rata orang.
Tim peneliti juga mencatat bahwa studi ini punya batasan metode. Analisis data berasal dari dua jenis studi: studi prospektif yang mengamati anak-anak berprestasi tinggi seiring waktu, dan studi retrospektif yang melihat kembali masa kecil orang dewasa berprestasi tinggi. Para peneliti menyatakan bahwa tidak mungkin menugaskan anak ke karier secara acak, dan perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami hubungan perkembangan dini dengan kesuksesan di kemudian hari.
Namun, temuan studi ini menantang penekanan pada tanda-tanda awal prestasi tinggi yang sering dicari sekolah elite, konservatori, dan akademi olahraga muda dalam merekrut bakat.
Bahkan, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pelatihan seperti itu bisa merugikan, memicu kelelahan ekstrem. Sebuah studi NIH tahun 2018 menemukan bahwa anak “berbakat” memiliki persepsi buruk tentang kesehatan fisik mereka, dan lebih berisiko mengalami kesehatan mental yang buruk dibanding anak bukan berbakat.
“Semua temuan dalam studi ini mengindikasikan bahwa anak berbakat berisiko dalam hal kesehatan mental,” begitu peringatan studi tersebut.