Singapura adalah salah satu negara kecil di Asia Tenggara, tapi perusahaannya terus mendominasi peringkat Fortune Southeast Asia 500.
Daftar ini, yang mengurutkan perusahaan terbesar di Asia Tenggara berdasarkan pendapetan, mencakup tujuh negara: Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Singapura, Kamboja dan Filipina.
Thailand dan Indonesia memimpin daftar dalam jumlah perusahaan, dengan 105 dan 104 perusahaan masing-masing. Kedua negara ini bertukar posisi dibandingkan dengan peringkat tahun lalu, di mana ada 109 perusahaan Indonesia dan 100 perusahaan Thailand.
Singapura cuma punya 82 perusahaan di daftar ini, jadi berada di posisi keempat. Tapi kalau diukur dari pendapatan, pengaruhnya jadi lebih besar. Perusahaan Singapura di peringkat tahun ini menghasilkan $657,6 miliar pada tahun 2025, atau 35% dari total $1,88 triliun yang dihasilkan semua perusahaan di Southeast Asia 500. (Di posisi kedua adalah Thailand dengan $358,2 miliar).
Separuh dari 10 perusahaan teratas di Southeast Asia 200 berkantor pusat di Singapura, dengan posisi nomor satu ditempati oleh raksasa komoditas Trafigura, yang pendapatannya mencapai $240,3 miliar.
Wilmar dan Olam, yang berada di posisi keempat dan kelima, adalah perusahaan agribisnis dari Singapura. Wilmar membawa pendapetan $70,4 miliar, sementara Olam mencatat $51,5 miliar, naik 4,5% dan 22,5% setiapnya dari tahun sebelumnya. (Penjualan unit bisin makanan, pakan, dan serat Olam, yaitu Olam Agri, yang mulai berlaku pada bulan April, bisa memengaruhi posisinya di daftar tahun depan.)
DBS, bank terbesar di Asia Tenggara dari segi aset, ada di posisi kedelapan dengan pendapatan $28,3 miliar. Sedangkan raksasa manufaktur global Flex—yang berkantor pusat secara sah di Singapura, meski operasinya di AS—berada di nomor Sembilan dengan $27,9 miliar.
Singapura juag menjadi tempat asal Sea, yang menempati peringat keethas di tahun ini.