Harga emas yang naik ke rekor tertinggi tidak hanya meningkatkan portfolio investor. Emas juga mulai menjadi uang sehari-hari yang bisa dipakai untuk beli barang dan jasa.
Sekarang, teknologi memungkinkan konsumen membelanjakan emas dengan kartu debit. Sejumlah kecil emas diubah jadi uang tunai saat pembelian. Konsep ini sebenarnya bukan hal baru. Tapi karena inflasi berlanjut dan nilai emas melonjak, pemerintah negara bagian dan platform fintech semakin mendukungnya.
Alasannya sederhana: saat harga naik mengikis nilai uang biasa, emas bisa mengimbangi dan bahkan nilainya bertambah. Emas sudah lama dianggap sebagai pelindung dari inflasi.
Tapi tidak semua orang yakin sistem pembayaran pakai emas ini bagus. Para kritikus mempertanyakan siapa yang diuntungkan dan memperingatkan bahwa biaya, pajak, dan hambatan lain bisa membatasi daya tariknya.
Kartu debit berbasis emas memungkinkan pengguna membelanjakan emas seperti uang tunai. Pengguna menyimpan emas fisik — biasanya disimpan di brankas aman — bukan saldo dalam dolar. Saat berbelanja, sebagian kecil emas itu langsung dijual dan diubah menjadi mata uang untuk menyelesaikan transaksi.
Perusahaan seperti Glint berada di depan model ini. Mereka mengeluarkan kartu debit prabayar yang didukung oleh emas yang disimpan di brankas Swiss. Pengguna mengisi akun dengan mata uang biasa, yang kemudian diubah menjadi emas yang mereka miliki secara hukum.
Ini bukan hal baru. Sistem pembayaran berbasis emas sudah ada bertahun-tahun. Tapi, minat terhadapnya sekarang baru benar-benar tumbuh. Ini berkat nilai emas yang melambung tinggi dan reputasinya sebagai pelindung inflasi dan aset aman di masa tidak pasti.
Berbeda dengan uang tunai di rekening bank yang bisa turun nilainya saat harga naik, emas secara historis mempertahankan dan sering meningkatkan daya belinya seiring waktu. Dengan inflasi mengubah cara pikir konsumen tentang uang, perbedaan ini semakin terasa.
Contohnya, uang $1.000 dari tahun 2020 sekarang hanya bernilai sekitar $780. Artinya, nilainya turun sekitar seperlima karena inflasi. Sebaliknya, $1.000 yang diinvestasikan ke emas di awal 2020 sekarang bisa bernilai kira-kira $1.800 sampai $2.000, tergantung waktu beli dan jualnya.
Bagi sebagian orang, daya tariknya bukan hanya finansial, tapi juga ideologis. Emas sering dilihat sebagai aset nyata yang independen, di luar kendali bank sentral dan sistem uang fiat. Hal ini menarik bagi orang yang waspada terhadap pemerintah dan lembaga keuangan tradisional.
Hambatan juga mulai dikurangi. Beberapa negara bagian, termasuk Texas dan Utah, sedang menyelidiki atau sudah memperkenalkan undang-undang yang mempermudah penggunaan emas dalam transaksi tertentu. Tujuannya untuk mengurangi hambatan pajak dan memperjelas status hukum emas. Tapi langkah ini tidak sampai menggantikan dolar AS sebagai alat pembayaran yang sah.
Tidak semua orang yakin kartu debit berbasis emas adalah ide bagus. Kelemahan yang disebutkan para kritikus termasuk:
**Biaya:** Penyedia bisa mengenakan biaya untuk membeli, menyimpan, atau menjual emas. Juga ada biaya transaksi atau pertukaran mata uang saat mengubahnya di tempat pembelian. Biaya-biaya ini bisa menumpuk dan mengurangi manfaat perlindungan inflasi.
**Kompleksitas pajak:** Di tingkat federal AS, emas masih diperlakukan sebagai aset kena pajak. Artinya, membelanjakan emas bisa memicu pajak capital gains jika nilai logamnya naik sejak dibeli. Meski beberapa negara bagian berusaha menghapus hambatan pajak lokal, aturan federal tetap berlaku.
**Volatilitas pasar:** Meski dianggap sebagai pelindung dan penyimpan nilai jangka panjang, harga emas tidak stabil dalam jangka pendek. Dalam beberapa tahun terakhir, peningkatan permintaan dan minat spekulatif menyebabkan fluktuasi harga yang lebih tajam. Ini berarti nilai saldo pengguna bisa berubah lebih dari yang diharapkan.
**Hanya tren sesaat?** Ada keraguan apakah orang benar-benar ingin membelanjakan emas. Banyak investor melihatnya sebagai penyimpan nilai jangka panjang, bukan untuk transaksi sehari-hari. Hal ini bisa membatasi adopsinya.