Pada tahun 1883, seorang penyair Amerika, Emma Lazarus, menulis puisi berjudul “The New Colossus”. Puisi ini ditulis di era banyak imigran datang ke Dunia Baru (Amerika). Puisi ini bagian dari penggalangan dana untuk membangun alas Patung Liberty, hadiah dari Prancis untuk Amerika Serikat. Isi puisinya kira-kira: “Berikan padaku orang-orangmu yang lelah, miskin, dan berkerumun yang ingin bernapas bebas…”
Di tahun 2020-an, baris puisi itu mungkin lebih cocok jadi slogan untuk Prancis atau Portugal sekarang. Hal aneh sedang terjadi. Amerika, yang lama menjadi tujuan orang-orang mencari harapan baru, mulai terasa seperti “negara lama” yang diam-diam ditinggalkan. Bahkan, menjadi orang Amerika sekarang dianggap tidak keren.
Contohnya, tahun lalu George Clooney dapat kewarganegaraan Prancis dan mengaku keluarga utamanya tinggal di Provence. Ini memberi pesan kuat tentang status Mimpi Amerika. Clooney bilang, dia pindah agar anak-anaknya punya hidup yang lebih baik di Prancis, di mana ketenaran kurang penting, privasi lebih dilindungi, dan masa kecil bisa lebih biasa dibanding di Los Angeles.
Migrasi besar-besaran keluar Amerika
Clooney bukan satu-satunya. Di tahun 2025, AS alami negatif migrasi bersih untuk pertama kalinya sejak Depresi Besar. Sekitar 150.000 orang lebih banyak yang keluar. Banyak warga Amerika memilih kuliah, kerja jarak jauh, dan pensiun di luar negeri. Mereka tertarik biaya hidup lebih murah, kota lebih aman, dan gaji AS lebih berarti. Di Portugal, jumlah warga AS naik lebih dari 500% sejak pandemi. Di Spanyol dan Belanda, jumlahnya hampir dua kali lipat dalam 10 tahun.
Menurut pengusaha Seth Levine dan jurnalis Elizabeth MacBride, model ekonomi telah menggerogoti kelas menengah. Mereka bilang “kapitalisme hanya untuk pemegang saham tidak berhasil”. Gaji CEO naik lebih dari 900% sejak 1970-an, sementara gaji pekerja biasa hampir tidak naik. Kesempatan orang miskin jadi kaya juga turun drastis. Usia pertama kali beli rumah sekarang rata-rata 40 tahun, naik dari usia 20-an beberapa dekade lalu.
MacBride bilang, orang tidak lagi percaya kalau mengikuti aturan sistem akan membawa mereka maju. Ini terlihat dari harapan hidup yang turun dan krisis bunuh diri di kalangan pria kulit putih. Kepercayaan itu hilang, dan itu penting. “Kelas menengah” selalu sebagian adalah cerita, dan cerita itu sekarang rusak.
Masalahnya lebih dalam. Bersamaan dengan memudarnya kelas menengah, ada risiko Amerika tidak lagi jadi simbol keren global. Dulu, jeans biru, Michael Jordan, Coca-Cola, dan McDonald’s punya peran besar. Sekarang, Gen Z yang tumbuh dengan media sosial menemukan hal-hal keren justru ada di luar negeri.
Jadi keren, dong
Seorang ilmuwan politik berargumen bahwa pengaruh budaya AS perlahan terkikis. Dominasi budaya AS kini menghadapi saingan serius dari Eropa, Asia, dan Amerika Latin.
Ini paling terlihat di film. Pangsa pasar global box office Hollywood turun dari 92% menjadi sekitar 66% dalam dua dekade. Sementara pangsa China hampir tiga kali lipat. Semua film 10 teratas di China tahun lalu adalah film domestik. Tren ini menunjukkan pengaruh budaya China yang makin kuat.
Di Netflix, sepertiga dari yang ditonton orang Amerika adalah konten bukan berbahasa Inggris. Tren streaming konten non-Inggris naik 71% sejak 2019. Di musik, lagu berbahasa Inggris dalam 10.000 lagu teratas global turun dari 67% (2021) jadi 55% (2024), digantikan K-pop dan musik Latin.
Selera Gen Z menunjukkan pergeseran ini. Di media sosial, anak muda AS ikut tren “Chinamaxxing” – mengadopsi kebiasaan hidup ala China, seperti makan bubur, tai chi, dan pakai sandal di rumah. Mereka ramai-ramai pindah ke platform China, Xiaohongshu. Influencer saling berbagi tips minum air hangat dan pengobatan tradisional China. Media pemerintah China merayakan tren ini sebagai kemenangan pengaruh budaya.
Waktunya belajar
Bahkan peran Amerika sebagai “kelas dunia” juga terkikis. Jumlah mahasiswa internasional baru di kampus AS turun 17% tahun lalu. Sementara jumlah orang Amerika yang kuliah di Eropa sudah dua kali lipat sejak 2011. Dalam peringkat global, jumlah universitas AS di top 500 sekarang yang terendah sepanjang masa. Pusat gravitasi pendidikan tinggi disebut sedang bergeser dari AS ke Asia.
Ini tidak berarti AS sudah jadi negara terbelakang. AS masih ekonomi terbesar dan punya pengaruh budaya besar. Tapi ketika bintang Hollywood pindah ke Provence, pekerja remote pilih Berlin daripada Dallas, dan tren gaya hidup Gen Z berasal dari Beijing dan Seoul, polanya jelas. Amerika mulai terlihat, bagi warganya sendiri, kurang seperti masa depan dan lebih seperti negara lama yang ditinggalkan untuk mencari kehidupan lain di tempat lain.
Levine dan MacBride tidak menganjurkan tinggalkan kapitalisme. Mereka bilang kapitalisme sudah berubah menjadi “Kapitalisme Dinamis”. Usulan utama mereka adalah “ekonomi kepemilikkan” yang menyebar kepemilikan saham lebih luas ke karyawan. Tujuannya agar kapitalisme melayani orang, bukan sebaliknya. Menurut mereka, membangun kembali kelas menengah Amerika bergantung pada apakah orang biasa merasa punya andil dalam sistem. Jika mereka merasa punya andil, mereka mungkin akan bertahan.