Banyak bisnis kecil di Main Street ingin cepat-cepat pakai AI, tapi kebanyakan dari mereka masih harus belajar jalan dulu sebelum bisa lari.
Pemilik usaha kecil sudah memutuskan untuk pakai AI. Mereka tidak tanya *apakah* harus pakai, tapi *bagaimana* dan *kapan* memulainya. Survei dari Goldman Sachs hari Selasa menunjukkan, lebih dari tiga perempat pemilik usaha kecil sudah pakai AI sedikit-sedikit, dan lebih dari 90% bilang itu bekerja.
Efisiensi dan produktivitas yang lebih tinggi adalah alasan utama bisnis kecil pakai AI. Hampir tujuh dari sepuluh pemilik berharap teknologi ini bisa tingkatkan pendapatan. Tapi, meski banyak yang coba-coba AI, masih ada jarak besar antara yang antusias dan yang bisa mengintegrasikannya sepenuhnya.
Survei Goldman Sachs menemukan hanya 14% pemilik yang sudah terapkan AI di operasi inti mereka. Artinya, kebanyakan bisnis kecil sudah “unduh aplikasinya”, tapi hanya sedikit yang baca petunjuknya.
Survei ini melibatkan 1,256 peserta program edukasi bisnis kecil Goldman Sachs. Banyak pengusaha tertarik pada AI tapi bingung cara memanfaatkannya sepenuhnya. Hambatannya termasuk kurangnya keahlian teknis, banyaknya pilihan alat AI, dan kekhawatiran privasi data. Lebih dari 70% responden bilang mereka butuh lebih banyak pelatihan dan sumber daya.
Resiko Besar, Mungkin Hasilnya Besar Juga
Bisnis kecil cepat tertarik pada alat AI, tapi sulit menguasainya. Laporan Kamar Dagang tahun 2025 menemukan 58% bisnis kecil pakai AI generatif, lebih dari dua kali lipat dari tahun 2023. Alat seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini membuat media sosial jadi teknologi kedua paling populer di bisnis kecil, setelah mesin pencari.
Kebanyakan bisnis kecil pakai AI untuk banyak hal: dari menulis konten hingga mengotomatiskan layanan pelanggan. Beberapa bahkan pakai untuk tugas rumit seperti membuat kode dan desain website.
Tapi, penggunaan AI untuk hal yang benar-benar tingkatkan pendapatan masih terbatas pada perusahaan yang melek teknologi. Kurang dari seperempat bisnis yang disurvei Kamar Dagang pakai AI untuk tugas seperti optimalkan rantai pasokan atau identifikasi pelanggan potensial. Ketidakpercayaan pada AI masih banyak, dengan privasi data jadi kekhawatiran utama bagi setengah perusahaan.
Kendala lain mungkin dari pelanggan sendiri. AI adalah salah satu topik pembicaraan yang paling tidak disukai di AS. Menurut jajak pendapat baru, hanya 26% warga AS yang lihat AI secara positif. Perusahaan juga mungkin ragu pakai AI untuk layanan langsung ke pelanggan karena kelelahan publik dengan teknologi ini. Survei Gartner menemukan setengah konsumen lebih pilih brand yang tidak pakai AI.
Satu hal positif: lapangan kerja. Gelombang PHK dan ketakutan AI gantikan pekerjaan di perusahaan besar belum terasa di bisnis kecil. Laporan Kamar Dagang menemukan 82% bisnis kecil pengguna AI justru bisa tambah karyawan tahun lalu.
Tapi, sama seperti perusahaan besar yang masih cari cara terbaik adopsi AI, bisnis kecil mungkin tetap ragu. Percobaan AI generatif di perusahaan besar banyak yang gagal menghasilkan pendapatan signifikan. Bisnis kecil dengan sumber daya terbatas mungkin takut mengambil resiko investasi ribuan dolar untuk model AI dan pelatihan staf.
RUU “AI for Main Street Act” yang disahkan DPR tahun lalu bertujuan alokasikan lebih banyak sumber daya untuk tingkatkan pemahaman AI di bisnis kecil. Tapi, sampai perusahaan besar buktikan bahwa AI layak diinvestasi, perusahaan kecil mungkin masih enggan mengikutinya.