Pas umurnya 19 tahun, James Broadnax nulis lirik rap, pikiran-pikiran, bahkan info lowongan kerja di sebuah buku catatan. Buku itu nanti jadi barang bukti di sidang pembunuhannya.
Jaksa milih lirik yang dibilang ada hubungannya dengan geng dan penembakan. Mereka pengen hakim dan juri yakin kalo Broadnax, yang berkulit hitam, pantas dihukum mati, bukan dipenjara seumur hidup. Pengacaranya bilang cara ini bias terhadap juri yang hampir semuanya orang putih.
Broadnax bukan satu-satunya orang di hukuman mati Texas yang lirik rapnya dipake di pengadilan. Lirik rap udah dipake di ratusan kasus di lebih dari 40 negara bagian selama 50 tahun terakhir, padahal seringkali bentuk ekspresi seni lain gak boleh dijadiin bukti. Kata para ahli, ngeliat lirik rap sebagai catatan harian itu menghilangkan nilai seninya dan main-main sama prasangka rasis buat pengaruhi juri.
“Itu nolak status rap sebagai seni. Dianggap cuma autobiografi,” kata Erik Nielson, penulis buku “Rap on Trial.” “Ini sebenernya ngomongin asumsi dasar yang orang punya tentang laki-laki kulit berwarna – dan hampir seluruhnya itu yang jadi sasaran – kalo mereka gak cukup pintar buat pake perumpamaan dalam sastra. Bahwa di situ gak ada metafora.”
Lirik rap sering dipake dalam kasus geng atau pemerasam. Jaksa coba nunjukin kalo terdakwa terlibat kejahatan dengan pake lirik sebagai bukti. Contohnya, kalo seseorang didakwa nembak orang, jaksa cari lirik yang nyebut soal penembakan.
“Kalo liriknya ditulis sebelum kejahatan, jaksa bakal bilang ini bukti motif. Kalo ditulis sesudahnya, itu dianggap sebagai pengakuan langsung,” kata Nielson.
Lirik rap dipake di pengadilan, dianggap autobiografi
Broadnax dan sepupunya didakwa atas pembunuhan dua orang tahun 2008 di luar studio musik dekat Dallas. Setelah lebih dari 10 tahun di hukuman mati, dia dijadwalkan dieksekusi 30 April nanti.
Pengacaranya lagi ngajuin banding ke Mahkamah Agung AS buat hentikan eksekusi. Mereka bilang hakim harusnya udah pertimbangin potensi bias rasis dan kasih tahu juri soal liriknya jangan dilihat sebagai autobiografi.
“Pentingnya lirik rap itu adalah elemen kunci dalam narasi yang penuh ras ini,” tulis pengacara Broadnax. “Lebih parah lagi, perkara ini nunjukin kalo juri ngasih hukuman mati berdasarkan stereotype rasis yang dimunculkan dari lirik rap tersebut.”
Kemba, seorang rapper, bilang ke AP kalo pake lirik rap itu ampuh banget pengaruhi juri karena orang punya prasangka – dan karena jaksa pengen tetep ada hukuman.
“Banyak orang yang gak ngeliat rap atau musik kulit hitam sebagai ekspresi seni,”katanya. “Dan pas kamu di sidang, udah ada anggapan kalo kamu melakukan sesuatu yang salah.”
Terdakwa di kasus kayak gini hampir semuanya laki-laki kulit berwarna, seringkali gak punya sumber daya, dan banyak yang gak bisa bayar pengacara sendiri. Tapi ada juga rapper terkenal kayak Young Thug yang liriknya dipake di sidang. Dia mengaku bersalah tahun 20024 dan bebas.
Stigma rap yang nongol
“Kreatinalisasi musik boleh di bukok sudah terjadi sebagai semua hiistorihak lewatsung pada adat,dimual data muluu….” Tjet mut kata pengiat ikli sosial musik