Generasi Z Rela Lepas Gaji Rp 70 Juta demi Pulang Tepat Waktu, Namun Tetap Berambisi Mendapatkan Ruang Kerja Eksklusif

Rata-rata profesional Gen Z hari ini pengen punya kebebasan untuk log off jam 5, dan juga jabatan tingkat C-suite. Setidaknya, itu yang terjadi di KPMG, salah satu raksasa konsultan dari Big 4.

Menurut Survey Winter Intern mereka, Gen Z rata-rata rela mengorbankan gaji sekitar $5,000 untuk dapatkan keseimbangan kerja-hidup yang lebih baik. Tapi di waktu yang sama, 92% punya ketertarikan untuk meraih peran C-suite atau eksekutif senior.

Survey yang melibatkan 361 intern musim dingin KPMG AS ini juga menemukan hampir seperempat (24%) ingin mentalitas “selalu tersedia” dihapus dari praktik kerja tradisional. Seperlima lainnya ingin tinggalkan jam kerja 9-to-5 sepenuhnya.

“Gen Z mendefinisikan ulang arti kesuksesan,” kata Derek Thomas, partner nasional di KPMG. “Mereka ingin mencapai puncak secara profesional, tapi juga punya hidup di luar kerja selama perjalanannya.”

Lahir antara 1997 dan 2012, Gen Z tumbuh di masa yang aneh. Pandemi COVID mengacaukan normalitas tempat kerja saat mereka lulus atau baru mulai kerja. “Great Resignation” membuat banyak orang memprioritaskan waktu luang. Sekarang, meski mengincar posisi tinggi, banyak yang sulit tinggalkan batasan-batasan itu.

“Ini soal keinginan versus kenyataan untuk mencapainya,” kata Thomas. Ia kaitkan kontradiksi ini dengan kurang pengalaman: kebanyakan Gen Z belum paham betapa panjangnya perjalanan karier. “Dari melihat karier sebagai lari cepat, jadi sadar itu benar-benar sebuah maraton,” ujarnya.

### AI Ancam Tangga Karier

Delapan dari 10 responden setidaknya agak khawatir dengan dampak teknologi ini—dan 10% sangat khawatir. Itu karena AI mengancam peran tingkat pemula yang biasanya jadi pintu masuk anak muda memulai karier.

Tingkat pengangguran lulusan baru lebih tinggi daripada rata-rata semua pekerja. Sebuah studi Stanford menemukan pekerja umur 22-25 di bidang terpapar AI tinggi, seperti pengembangan perangkat lunak, alami penurunan lapangan kerja 13% sejak 2022.

MEMBACA  Fakta kunci tentang nalokson oleh Reuters

Meski begitu, hampir 4 dari 5 responden merasa setidaknya agak siap untuk bekerja bersama agen AI.

“Ada kekhawatiran tertentu soal AI dan dampaknya di tempat kerja,” kata Thomas. “Tapi Gen Z justru mendalami AI. Mereka tahu ada dampaknya, tapi sadar ini pergeseran yang akan menetap.”

### ‘Tunggangan’ menuju sukses

Thomas bilang AI justru bantu intern atasi hambatan yang dihadapi pekerja pemula, sehingga mereka bisa lebih fokus pada pengembangan skill seperti komunikasi. “AI bantu mereka melalui kurva belajar lebih cepat daripada sebelumnya,” jelasnya.

Di lapangan, KPMG luncurkan program percontohan di Lakehouse, pusat pelatihan senilai $450 juta, untuk audit intern sambut tempat kerja yang digerakkan AI. Program ini isinya simulasi dan kompetisi untuk isi kesenjangan karena hilangnya tugas-tugas tingkat pemula. Termasuk sesi cara gunakan alat AI untuk hasil terbaik bagi klien.

Ini semua bagian dari lanskap pekerjaan yang berubah. Thomas bilang Gen Z harus paham ini untuk sukses. Pola pikirnya harus bergeser: dari tangga karier, menjadi “tunggangan” karier yang lebih dinamis.

“Karier itu bukan cuma seperti tangga. Tapi seperti tunggangan,” katanya sambil berisyarat seperti memanjat. “Kamu harus mau beradaptasi dan berputar selama perjalanan.”

Tinggalkan komentar