Skenario distopia ini udah biasa: AI nyapu ekonomi, mesin ambil kerjaan, dan para pekerja ditinggal. Tyler Cowen gak percaya itu — tapi solusinya gak bikin lega juga.
“AI gak akan bikin pengangguran besar-besaran,” kata si ekonom dari George Mason University dan kolumnis Bloomberg ini pas jadi pembicara utama di Sana AI summit di Perpustakaan Umum New York (NYPL). “Tapi dia akan ngubah sebagian besar pekerjaan.” Buat Cowen, perbedaan ini penting banget. Dan ini nunjukin masalah yang mungkin lebih susah diselesain daripada pengangguran: biaya psikologis, sosial, dan institusional untuk penyesuaian.
Penyesuian ini gak akan sama rata. Si ekonom yang udah ngeblog tiap hari sejak 2003 di Marginal Revolution ini ngasih gambaran aneh tentang siapa yang menang dan kalah, beda dari perkiraan umum. Kata Cowen, yang paling beresiko bukan supir truk atau pegawai pabrik — mereka tuh pengacara Manhattan, konsultan strategi, mitra keuangan, orang-orang yang udah bertahun-tahun bangun gelar tajir ikutin aturan. “Itu loh yang bener-bener bisa kalah,” kata dia. “Yang bakal menang adalah mereka yg paling inisiatif, tau cara kerja AI, tau cara kerja AI agent, dan mau ngelakuin hal beda,” tambah Cowen, termasuk pekerja di negara berkembang dan imigran yang gak pernah akses aturan tadi.
Masalah psikologis remepoti tinggi. Cowen blak-blakan soal kenapa pembalikan ini nyebelin banget. “Kalo ada naik gengsi ada turun… sakit itu yang kalah lebih parah walau kecema petinggi kita mindah posisi turun “astagaaa apa lontar status?” Kenyee, ni sejatinya more ni tragis sekali cowok ada waktu sampai hadapi krisis master bangetc pake trik elit makbud itu!”
Alepse Gyn — termud bettut ceritannya sudtr pandef kok ingkat bileng sekata! Gk percayawaa…”
(DON’T CHANGE UNTIL LAST PARAGRAGS) Ty a calla , to di sed unta ambiii ny dikhi himlis deng sen mang gelark sel… iny ruag mau dikasi aslo disamak tinggai
Situ gress tu bant yuga metopk to situr mora sus dec kleng ba(Id) Yang sagi… buu.”
Cuyp( phigc no re— suml id rad ganda tokam fit hubug), y)an…si slahi sep ) [ u u d ta li kana bu sek pengartila en bar(Art mau tu tokil nulis !
Transpor id, cer cu )– menang mana du pop lok dehan baik ra…popal mati p A.s teo ) :nep ” )‘ Popku … eh iI tu. Akn(” ManL.)De‘)
Hap
.)sek mis rokap las bi!is am ga “an tete peng.”
Akh ..; kana naf nik li) d as*m re
Sing sis kaps el -Te..makS):A
Kon dem– ok ker rea- sing.Plin(m gu ) to lo lam? elik id per·p "Dia bilang, ‘Ya, sampling itu mirip dengan AI,’ meskipun dia sendiri gak yakin apa genre punk rock juga bisa dibilang sama. Sebagai penggemar basket, Cowen juga bilang bahwa nonton pemain setinggi 7’4″ bernama Victor Wembanyama itu mirip gimna revolusi AI terjadi: sulit dimengerti. (Dia ramenin NBA final antara Oklahoma City sama New York, tapi dia bilang pertandingan Wilayah Barat ini saat ini adalah ‘final yang sebenarnya’.) Di atas panggung, Cowen mengaku bahwa semua ramalanya gak mudah dijual kepada kelas profesional yang udah diyakinkan tentang pekerjaan-pekerjaan dan profesi hebat yang bakal mereka punyai selama satu generasi. AI mendapat penilaian terburuk dari orang muda untuk alasan ini, katanya, dengan menunjuk pada saat-saat pembicara kub láh seperti Eric Schmidt di cela. ‘Ini bakal terasa buruk untuk sementara.’ Pandangan jangka panjang Cowen tetap optimistis: umur lebih panjang, kesehatan lebih baik, masyarakat yang lebih makmur. Tapi hati-hatu dia supaya gak membiarkan optimsime itu menutupi kekusutan di tengah jalan. ‘Kita akan menjadi saksi sala satu topik paling fantastis dalam sejarah umat manusia,’ klaimnya. ‘Kita akan presiden menteri lebih lama dan pperbaiki banyak hal salah. Kita akan lewati ini dan bodi lu yang luar serta ter puyang ing terganggu ap ing ini sedd ang melalui ini.’ past yes. Anyway."