Generasi yang sering terlupakan ini kadang terlewat dalam diskusi soal Botox di internet.
Tapi sekarang, mereka mulai datang ke klinik bedah plastik, gak cuma untuk perawatan keriput, tapi juga operasi facelift yang dulu biasanya buat pasien 15 tahun lebih tua. Ini didorong oleh obat penurun berat badan GLP-1 yang bikin pipi cekung, rahang mengendur, dan mempercepat penuaan wajah—hal yang gak bisa diperbaiki hanya dengan Botox.
Orang-orang yang dulu nonton Michael Jackson dan Madonna di MTV sekarang sudah setengah baya. Mereka merasakan “tanda-tanda penuaan alami yang biasa muncul di usia 40-an dan 50-an,” kata Dr. Bob Basu, presiden American Society of Plastic Surgeons.
“Pria dan wanita ingin mengembalikan versi terbaik dari diri mereka. Saya rasa itu yang mendorong permintaan untuk prosedur minim invasif,” kata Basu ke Fortune.
Gen X juga sekarang mulai memilih operasi yang dulu cuma buat pasien lebih tua—ini karena kesadaran akan penuaan wajah dan efek GLP-1.
“25 tahun lalu, yang biasanya operasi facelift itu umur 60 ke atas. Sekarang gak gitu,” ujar Basu. “Makin banyak pasien usia 40-an dan 50-an yang mau peremajaan wajah.”
GLP-1 sering bikin orang kehilangan volume di pipi, rahang, dan leher. Makanya banyak pasien Gen X yang cukup muda buat prosedur-prosedur itu tapi tetap melakukannya.
American Academy of Facial Plastic and Reconstructive Surgery melaporkan kenaikan 50% prosedur fat-grafting tahun 2024. Dokter langsung mengaitkanya dengan “Ozempic face”—pipi cekung dan kulit kendur akibat penurunan berat badan dari GLP-1 yang cepat. Satu dari empat dokter bedah wajah sekarang percaya bahwa GLP-1 akan terus meningkatkan permintaan untuk perawatan bedah dan nonbedah.
Survei American Society for Dermatologic Surgery tahun 2025 di lebih dari 3.500 orang menemukan bahwa responden milenial tua dan Gen X ingin keliatan semuda yang mereka rasakan, atau lebih baik usianya, dan khawatir denga garis-garis halus di sekitar mata dan wajah tengah.
Dokter juga nyebut “Zoom boom”—Gen X yang udah bertahun-tahun nonton wajah sendiri di video call pas pandemi jadi semakin sadar penuaannya, dibanding generasi sebelumnya.
Meredith Finn, spesialis cuti berbayar dan anggota Gen X, pertama pakai Botox setelah dengar dari teman-teman klub country ibunya. Sejak itu dia rutin suntik beberapa kali setahun.
“Aku mulai merasaada lebih banyak garis di sekitar mata, dan aku pikir coba aja dokter yang ibuku bilang bagus,” kata Finn ke Fortune.
Finn bilang dia mau lebih sering suntik andai bisa bayar. Biaya Botox rata-rata $420, lebih murah dari operasi, tapi harus diulang tiap beberapa bulan karena efeknya hilang.
Sebalikanya, hasil operasi permanen, jadi bisa lebih murah dan efektif dalam jangka panjang. Mungkin itu sebabnya hampir 40% dari semua prosedur bedah dilakukan Gen X. Tapi jumlah orang yang pilih prosedur minim invasif malah dua kali lipat.
tetapi, selrera makan Gen X terhadap suntik tetap mencengangkan: orang umur 40 hingga 54 tahun menjalani hampir 11 juta prosedur minim invasif di 2024. Itu mencakup lebih dari setengan semua suntikan neuro modulator—Botox, Dysport, Daxxify—lebih banyak dari milenial, Gen Z, dan sebagian boomer digabung, berdasa data terbaru American Society of Plastic Surgeons.
“Kenyataanya, prosedur minim invasif mungkin bukan paling bagus buat mencapai tujuan mereka. Sering kali, operasi adalah jalan terbaik,” kata Basu.
Gen X kini jadi penggerak utama penjualan produk anti-penuaan dan makin mampu bayar operasi kosmetik seharga beberapa ribu dolar. Power belinya diperkirain capai $23 triliun dalam 10 tahun ke depan, menjadikan mereka generasi dengan pengeluaran tertinggi di dunia.