Harga saham yang terus naik ke level tertinggi, nilai perusahaan OpenAI yang sangat besar, dan laporan tentang perusahaan teknologi yang banyak pinjam uang, bikin orang takut. Mereka khawatir boom AI ini cuma gelembung teknologi seperti dulu yang siap pecah.
Bahkan CEO OpenAI, Sam Altman, bilang musim panas ini bahwa investor jadi "terlalu semangat soal AI" dan ini mirip sama zaman gelembung dot-com.
Tapi Capital Economics kasih catatan bahwa prediksi laba untuk perusahaan-perusahaan S&P 500 tahun depan malah naik, dan ini yang dukung kenaikan harga saham.
"Walaupun ini terutama karena perkembangan di sektor ‘big-tech’ yang pertumbuhan labanya luar biasa, prediksi laba untuk perusahaan lain di indeks itu juga ikut naik," tulis John Higgins, kepala ekonom pasar di Capital Economics, di catatannya hari Senin.
Selain itu, rasio harga saham terhadap perkiraan laba hampir tidak naik, cuma naik sedikit jadi sekitar 22.6 dari 22.3 di awal tahun ini, tambahnya.
Bahkan, rasio untuk saham teknologi besar, yang mendorong kenaikan pasar, malah turun sedikit.
"Kesimpulannya, rasio harga terhadap perkiraan laba — untuk S&P 500, gabungan sektor teknologi besar, dan sisanya — masih belum setinggi dulu waktu gelembung dot-com pecah," kata Higgins.
Perbedaan penting lain antara sekarang dan zaman dulu adalah Federal Reserve (bank sentral AS) justru menurunkan suku bunga, bukan menaikkannya. Tapi belum jelas seberapa agresif penurunan suku bunga kali ini.
Memang, Capital Economics masih memperkirakan akan ada koreksi besar di S&P 500 nantinya, setelah hype AI di pasar saham mencapai puncaknya.
Tapi Higgins bilang itu mungkin belum terjadi sebelum tahun 2027. Di waktu yang sama, boom AI sedang mengubah ekonomi.
"Dan ekonomi secara umum juga tidak terlihat sepelam yang disarankan beberapa data pasar tenaga kerja baru-baru ini," tambahnya. "Terakhir, pasar obligasi lebih mungkin bermasalah serius jika Fed mengetatkan kebijakan, seperti tahun 1999/2000. Kali ini, bank sentral malah cenderung melakukan sebaliknya."
Begitu juga, Oxford Economics minggu ini juga menyatakan bahwa boom sekarang punya fundamental yang lebih baik daripada zaman dot-com. Rasio harga terhadap laba untuk saham tech hari ini cuma 56% dari puncak gelembung dot-com, menurut catatan hari Selasa. Untuk saham chip, bahkan lebih rendah lagi, yaitu 43%.
Gelembung dot-com dulu juga ditandai dengan investor yang memberikan uang ke startup yang labanya sedikit atau tidak ada, yang akhirnya rugi. Tapi Oxford Economics bilang, sekarang cuma 4% perusahaan teknologi dan telekomunikasi di S&P 500 yang rugi, dibandingkan 12% tepat sebelum gelembung dot-com pecah.
Dan walaupun OpenAI belum untung, perusahaan pembuat chip seperti Nvidia dan TSMC yang mensuplai boom AI ini sedang banjir keuntungan karena permintaannya tinggi.
Selain dari nilai saham sekarang, gambaran besarnya untuk AI adalah bahwa teknologi ini masih menjanjikan sebuah revolusi, mirip dengan yang dilakukan internet dulu.
"Sudah pasti banyak perusahaan yang tidak bisa dapat bagian pasarnya, tapi teknologinya sendiri tidak pernah gagal untuk berkembang. Hanya saja butuh waktu lebih lama dari yang orang perkirakan awalnya," jelas Oxford. "Kami perkirakan hasil yang serupa untuk AI pada akhirnya, tapi seberapa berliku jalannya ke depan akan tergantung pada kecepatan dan efektivitas adopsi teknologinya."
Fortune Global Forum kembali pada 26–27 Oktober 2025 di Riyadh. CEO dan pemimpin global akan berkumpul untuk acara khusus undangan yang membentuk masa depan bisnis. Ajukan permohonan untuk undangan.