Jumat, 27 Februari 2026 – 23:11 WIB
VIVA – Diabetes melitus masih menjadi salah satu penyakit kronis yang kasusnya terus bertambah, termasuk di Indonesia. Penyakit ini sering disebut “silent killer” karena gejalanya kerap tidak disadari sampai komplikasi serius muncul.
Salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai adalah kaki diabetes, kondisi yang bisa berakhir dengan amputasi kalau tidak ditangani dengan cepat dan benar. Scroll untuk info selanjutnya…
Dr. Wirawan Hambali, Sp. P.D, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RS Pondok Indah (RSPI) – Puri Indah, menjelaskan, diabetes melitus yang tidak terkontrol dapat memicu berbagai kerusakan organ, termasuk saraf dan pembuluh darah di kaki. Kondisi inilah yang jadi awal mula terjadinya luka kronis hingga infeksi berat.
“Diabetes melitus, atau yang lebih dikenal dengan diabetes, kalau tidak terkontrol bisa menimbulkan berbagai komplikasi serius. Salah satunya adalah kaki diabetes yang dapat berujung amputasi jika tidak ditangani dengan baik dan cepat,” kata dr. Wirawan dalam temu media di Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026.
Diabetes melitus sendiri adalah penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan naiknya kadar gula darah akibat gangguan produksi insulin, resistensi insulin, atau gabungan keduanya. Penyakit ini terbagi jadi beberapa tipe, yaitu tipe 1, tipe 2, diabetes gestasional, dan tipe spesifik lain yang terkait dengan penyebab tertentu seperti kelainan genetik atau efek obat.
Di tahap awal, gejala diabetes sering tidak khas. “Beberapa tanda umumnya antara lain berat badan turun tanpa alasan jelas, sering lapar (polifagia), sering buang air kecil (poliuria), dan mudah haus (polidipsia). Tapi, banyak penderita tidak sadar akan kondisi ini sampai komplikasi terjadi,” jelasnya.
Salah satu komplikasi jangka panjang yang paling sering terjadi adalah kaki diabetes atau Diabetic Foot Ulcer (DFU). Diperkirakan, sekitar 15 persen pasien diabetes mengalami kondisi ini, dan sekitar 85 persen kasus amputasi kaki berhubungan dengan diabetes.
“Diabetes bisa menyebabkan kerusakan saraf (neuropati diabetik) dan penurunan aliran darah di kaki, sehingga membuat kaki jadi rentan infeksi dan lukanya lama sembuh,” ungkap dr. Wirawan.
Halaman Selanjutnya
Kerusakan saraf tepi membuat kaki menjadi kebas atau mati rasa. Akibatnya, penderita tidak merasakan sakit saat ada luka kecil, lecet, atau tertusuk benda tajam. Luka yang tidak terasa ini sering diabaikan dan terus mendapat tekanan saat berjalan, sehingga membesar dan berisko terinfeksi.