Tekanan dan Volatilitas Arus Masuk Modal yang Tinggi, Konsensus Ekonom Proyeksikan BI Pertahankan Suku Bunga Acuan

Kamis, 19 Februari 2026 – 13:34 WIB

Jakarta, VIVA – Banyak ekonom sepikir bahwa Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya atau BI-Rate di level 4,75 persen bulan ini. Hal ini ditegaskan karena ada tekanan dan gejolak arus modal dalam beberapa minggu terakhir.

Chief Economist BSI Banjaran Surya berpendapat bahwa nilai tukar rupiah masih berpotensi tertekan, jadi mempertahankan suku bunga acuan dinilai sebagai langkah yang cocok.

“Meskipun inflasi relatif terkendali, BI juga perlu menjaga daya tarik yield surat berharga dibandingkan negara lain. Di sisi lain, pengaruh MSCI membuat aliran modal lewat pasar saham cenderung tertahan,” ujar Banjaran di Jakarta, Kamis (19/2/2026).

Dia menjelaskan, untuk menjaga stabilitas rupiah, bank sentral tercatat meningkatkan penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada Februari 2026, dengan kembali pakai operasi moneter yang bersifat kontraktif.

Dihubungi terpisah, Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman mencatat bahwa tekanan setelah peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) tentang isu free float serta revisi outlook Indonesia oleh Moody’s dari stabil jadi negatif, berpotensi meningkatkan risk premium dan gejolak arus modal.

Ia menilai, BI dalam jangka pendek akan tetap utamakan stabilitas nilai tukar rupiah dan kepercayaan investor daripada mendorong pelonggaran moneter. Menurutnya, ruang untuk turunkan suku bunga dalam jangka pendek masih terbatas, setidaknya hingga tekanan mereda dan sentimen pasar membaik.

Sementara itu, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mencatat bahwa sejak pengumuman MSCI, Indonesia mengalami arus modal keluar dari pasar saham yang mencapai 1,01 miliar dolar AS.

MEMBACA  AT&T Ungkap Hari Libur dengan Panggilan Telepon Terbanyak. Dan Bukan Natal.

Kemudian, Indonesia juga mengalami arus modal keluar dari pasar obligasi yang mencapai 0,37 miliar dolar AS sejak perubahan penilaian kondisi ekonomi oleh Moody’s. Secara total, Indonesia mencatat arus modal keluar sebesar 1,06 miliar dolar AS dalam 30 hari terakhir.

Akibatnya, imbal hasil (yield) surat utang pemerintah tenor 10 tahun naik 6 basis poin (bps) dari 6,31 persen pada 19 Januari 2026 menjadi 6,40 persen per 13 Februari 2026. Sementara tenor 1 tahun melonjak 20 bps dari 4,67 persen menjadi 4,87 persen, yang mengindikasikan ada arus modal keluar di berbagai tenor obligasi.

Halaman Selanjutnya

Dalam rangka mengurangi tekanan arus modal keluar, catat Riefky, BI secara aktif meningkatkan kepemilikan surat utang pemerintah untuk mengurangi tekanan pada nilai tukar. Hasilnya, pelemahan rupiah relatif terbatas.

Tinggalkan komentar