Blokade total di Selat Hormuz yang dulu dianggap mustahil oleh para ahli kelautan, ternyata benar-benar terjadi. Akibatnya, seperlima pasokan minyak dan gas dunia sempat lumpuh total. Peristiwa ini membuat negara-negara Arab kaya minyak mengalami trauma besar karena logistik mereka benar-benar terhenti total.
Kini, negara-negara kaya minyak di Timur Tengah tidak mau lagi bergantung pada Selat Hormuz yang dianggap terlalu rawan dan mudah terseret masalah. Menurut laporan pengamat energi, Ron Bousso, saat ini terjadi fenomena yang disebut ‘Pipeline Boom’, yaitu demam pembangunan pipa raksasa bawah tanah secara besar-besaran di kawasan Jazirah Arab.
Baca Juga: Arab Saudi Penyelamat Dunia dari Kiamat Minyak? Pipa Raksasa Bypass Selat Hormuz Pompa 7 Juta Barel.
Para raja minyak sekarang berlomba dengan waktu. Mereka menggelontorkan dana ratusan triliun rupiah untuk memindahkan jalur ekspor melalui daratan, melewati gurun dan pegunungan, langsung ke Laut Merah dan Laut Mediterania. Tujuannya satu: menghindari ancaman rudal Iran di masa depan.
Arab Saudi Memimpin, UEA Langsung Gandakan Kapasitas Pipa
Arab Saudi terbukti adalah negara paling siap menghadapi krisis berkat rencana jangka panjang mereka. Saat Selat Hormuz diblokade kemarin, Riyadh langsung mengalihkan ekspor minyaknya ke Laut Merah menggunakan pipa East-West (Timur-Barat). Pipa raksasa yang sudah dibangun sejak tahun 1980-an itu ditingkatkan hingga kapasitas maksimal, yaitu 7 juta barel per hari. Langkah darurat Arab Saudi ini langsung ditiru secara besar-besaran oleh tetangganya, Uni Emirat Arab.