Jakarta (ANTARA) – Sebagai negara maritim yang ditentukan oleh jangkauan kepulauannya yang luas, Indonesia secara alami telah mengembangkan keahlian mendalam dalam seni mengawetkan makanan laut.
Di ribuan pulau, penggaraman sejak lama menjadi pertahanan utama melawan pembusukan di iklim tropis.
Namun, jauh di dalam Provinsi Maluku, masyarakat Teon Nila Serua (TNS) mempertahankan sebuah praktik yang melampaui penyimpanan makanan biasa, mengubah hasil tangkapan segar menjadi sebuah ikon budaya yang dikenal sebagai inasua.
Akar linguistik hidangan ini mencerminkan geografi pulau-pulau. Dalam bahasa Nila, ina berarti ikan dan sua berarti garam. Meski konsepnya tetap sama di pulau-pulau TNS, dialek lokal menawarkan variasi halus: hidangan ini dikenal sebagai inmana di Teon dan inaskua di Serua.
Berbeda dengan ikan asin kering matahari yang ditemukan di mana-mana di pasar Indonesia, inasua adalah produk fermentasi anaerob.
Metode ini menghindari efek pengerasan dari sinar matahari, menghasilkan produk akhir yang mempertahankan tekstur lembap dan lembut.
Sering disajikan mentah setelah masa pengolahannya, inasua banyak digambarkan oleh penggemar kuliner sebagai variasi sashimi yang gurih dan asin, dengan rasa unik dari mineral laut dalam Laut Banda.
Menurut Ferymon Mahulette, peneliti di Universitas Pattimura, inasua secara historis berfungsi sebagai bekal penting bagi nenek moyang Teon Nila Serua selama perjalanan berlayar berbulan-bulan ke Ambon.
Perjalanan ini sering tertunda oleh arus yang sulit, membuat persediaan makanan yang tahan lama menjadi vital untuk bertahan hidup.
Selain itu, inasua adalah solusi praktis untuk mengelola tangkapan berlebih di musim puncak dan menjamin keamanan pangan saat cuaca buruk mencegah penangkapan ikan.
"Inasua dipersiapkan untuk transisi musim, terutama di musim angin dan ombak besar saat cuaca menghalangi kami untuk melaut," catat Maria Lakotani Marantika (62), orang asli Nila yang kini tinggal di Maluku Tengah.
Pada akhir 1970-an, ancaman vulkanik memaksa masyarakat adat kepulauan Teon Nila Serua untuk berpindah ke Pulau Seram.
Meski terjadi perpindahan ini, tradisi tersebut tetap bertahan.
Marantika, yang dipindahkan pada usia 13 tahun, menjelaskan bahwa masyarakat masih menyiapkan inasua untuk acara-acara khusus dan mendistribusikannya kepada diaspora, hingga mencapai Jakarta.
Ronald Wonmaly, Kepala Kecamatan Teon Nila Serua, mengkonfirmasi adanya permintaan yang konsisten untuk produk ini di antara keturunan masyarakat yang tinggal di seluruh Indonesia.
"Satu kelompok usaha lokal bahkan mengirimkannya secara rutin ke Jakarta untuk memenuhi permintaan orang-orang TNS yang tinggal di ibu kota dan sekitarnya," kata Wonmaly.
Peran ikan minyak
Meskipun inasua bisa dibuat di Pulau Seram, varietas yang disukai adalah ikan minyak (Ruvettus pretiosus), yang ditemukan di perairan dalam Laut Banda.
Ikan laut dalam ini bisa tumbuh sepanjang badan manusia dewasa dan dianggap sebagai tangkapan langka yang membawa keberuntungan.
Yang patut dicatat, proses fermentasi memiliki tujuan fungsional di luar pengawetan.
Ikan minyak mentah memiliki efek pencuci perut jika dikonsumsi dalam jumlah besar, tetapi Mahulette menunjukan bahwa fermentasi membantu meminimalkan efek ini, membuat ikan lebih aman untuk dikonsumsi.
Selain itu, jika disiapkan dalam kondisi higienis yang ketat, inasua dapat bertahan selama bertahun-tahun, dengan dagingnya berangsur berubah dari putih menjadi kemerahan.
Metode persiapannya sedikit berbeda di ketiga pulau.
Di Serua, garam digiling menjadi bubuk halus untuk penyerapan lebih baik, sedangkan garam kasar lebih disukai di Nila. Di Teon, ikannya direndam dalam garam semalaman, dibilas, digarami kembali, lalu ditekan dengan papan pemberat.
Secara tradisional disimpan dalam wadah tanah liat atau bambu, inasua modern disimpan dalam wadah plastik tertutup.
Untuk penyajian, ikannya dibilas, diiris, dan dicampur dengan colo-colo—sambal pedas yang terbuat dari cabai, tomat, bawang merah, dan kemangi.
Profil rasa yang dihasilkan adalah paduan kompleks dari rasa asin, manis, dan aroma wangi, yang biasanya dinikmati dengan makanan pokok seperti nasi, singkong, atau pisang rebus.
Melestarikan tradisi untuk masa depan
Tradisi inasua baru-baru ini disorot dalam Festival Kor’a Inasua pada April 2026.
Didukung oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), acara ini bertujuan untuk memodernisasi pengemasan dan pemasaran hidangan ini untuk audiens yang lebih luas.
"Tujuan kami adalah agar inasua berkembang melampaui makanan pokok lokal. Kami ingin hidangan ini dikembangkan, diolah, dan dikemas dengan menarik untuk pasar yang lebih luas," kata Wonmaly.
Edukasi juga berperan dalam kelestariannya. Henderika Pormes dari Ikatan Keluarga Teon Nila Serua mengadakan lokakarya untuk siswa dan di situs bersejarah seperti Benteng Amsterdam untuk mempromosikan kerajinan ini.
Di luar budaya, Muhammad Ilman dari YKAN menekankan bahwa inasua sejalan dengan upaya konservasi.
Dengan memperpanjang umur simpan dan nilai setiap tangkapan, proses ini mendorong penangkapan ikan secara moderat dan mendukung ketahanan pangan jangka panjang.
Sejak 2015, inasua telah diakui secara resmi sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Hak Cipta © ANTARA 2026