Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, bilang pemerintah gak perlu menghitung ulang APBN meski rupiah melemah sampai sekitar Rp17.800 per dolar AS.
Bicara di kantor Direktorat Jenderal Pajak di Jakarta, Rabu, Sadewa bilang kementrian udah lakuin simulasi buat bera gam skenario ekonomi, termasuk satu di mana harga minyak global mencapai US$100 per barel.
“Kami udah itung. Dalam simulasi dimana harga minyak global capai US$100 per barel, asumsi rupiah juga udah diperhitungka. Jadi nggak masalah, dan saya gak perlu ngitung ulang APBN,” ucapnya.
Sadewa juga menilai pasar obligasi masih terkendali walo ada tekanan pada rupiah, soalnya pemerintah ud ambil langka stabilisasi lewat pembelian kembali obligasi buat jaga imbal hasil tetap stabil.
“Meski rupiah lagi melemah, imbal hasil obligasi turun sebab ada tindakan pemerintah dan upaya kolega di treasury (Direktorat Jenderal Perbendaharaan) buat lakukan pembelian kembali terbatas supaya imbal hasil masih terjangkau,” terangnya.
Dia nambahin bahwa stabilitas pasar obligasi penting bget buat jaga minat investor asing pada aset Indonesia.
“Selama pasar obligasi masih terkendali, kemampuan investor asing buat invest di obligasi kita juga bakal terpelihara. Kita ud mulai liat aliran masuk modal asing lagi ke pasar,” ucap Sadewa.
Sadewa juga bilang pemerintah lagi siapin langka tambahan buat secara signifikan memperkuat rupiah, sembari nandain bahwa depresiasi mata uang ini gak sesuai fundamental ekonomi Indonesia.
“Ini terjadi meskipun fundamentalnya bagus, jadi sebenernya lebih gak make sense. Biasane, mata uang ngelema waktu ada ganguan di fundamental ekonomi.” tegasnya.