Minggu, 19 April 2026 – 16:10 WIB
Seorang penjaga perdamaian dari Prancis yang bertugas di bawah misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) meninggal dunia setelah patroli mereka diserang dengan senjata ringan di Lebanon selatan, Sabtu pagi. Tiga personil lainya terluka, dengan dua orang dalam kondisi serius.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, serta pihak UNIFIL, langsung menuduh kelompok Hizbullah sebagai yang bertanggung jawab. Namun, tuduhan ini dibantah oleh Hizbullah.
"Semua indikasi menunjukkan bahwa tanggung jawab atas serangan ini ada pada Hizbullah," tulis Presiden Prancis Emmanuel Macron di media sosial, seperti dilansir france24, Minggu (19/4). "Prancis menuntut agar otoritas Lebanon segera menangkap mereka yang bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan mereka bersama UNIFIL."
Serangan terjadi dekat desa Ghandouriyeh, hanya sehari setelah gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Hizbullah mulai berlaku pada tengah malam Kamis.
Macron mengidentifikasi prajurit yang tewas sebagai Sersan Staf Florian Montorio dari Resimen Insinyur Parasut ke-17 Montauban. Dia menjelaskan bahwa Montorio dan timnya sedang menjalankan misi untuk membuka akses jalan menuju pos UNIFIL yang terisolasi karena pertempuran sebelumnya.
"Bangsa ini memberi hormat dan menyampaikan dukungan kepada keluarga prajurit kita dan kepada semua personel militer kita yang terlibat dalam upaya perdamaian di Lebanon," kata Macron.
Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Catherine Vautrin mengatakan pada Sabtu bahwa prajurit tersebut tewas dalam suatu penyergapan. Dia menyatakan prajurit itu sedang dalam misi membuka jalan menuju pos UNIFIL yang telah terisolasi beberapa hari akibat pertempuran di area tersebut antara Hizbullah dan pasukan Israel.
"Ia terjebak dalam penyergapan oleh kelompok bersenjata dari jarak sangat dekat," katanya di X. "Langsung terkena tembakan senjata ringan, ia ditarik mundur di bawah tembakan oleh rekan-rekannya, yang tidak dapat menyelamatkannya."
UNIFIL menyatakan patroli yang membersihkan bahan peledak di sepanjang jalan di desa Ghandouriyeh pada Sabtu untuk membangun kembali hubungan dengan posisi UNIFIL yang terisolasi, diserang dengan senjata ringan dari aktor non-negara. UNIFIL mengatakan satu penjaga perdamaian meninggal karena lukanya dan tiga lainnya terluka, dua di antaranya dalam kondisi serius.
Halaman Selanjutnya
Macron berbicara dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam setelah serangan itu "untuk menyerukan kepada otoritas Lebanon agar memberikan penjelasan lengkap tentang insiden ini, mengidentifikasi dan menuntut mereka yang bertanggung jawab tanpa penundaan, dan melakukan segala upaya untuk memastikan keselamatan tentara UNIFIL, yang dalam keadaan apapun tidak boleh menjadi sasaran," kata kantor Macron.