Jakarta (ANTARA) – Presiden Indonesia Prabowo Subianto telah memperingatkan pejabat pemerintah tentang meningkatnya kekhawatiran global mengenai kemungkinan Perang Dunia III. Ia menekankan bahwa bahkan negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik bisa menghadapi konsekuensi serius.
Berbicara pada Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin, Prabowo menegaskan risiko yang ditimbulkan oleh ketegangan geopolitik yang meningkat.
“Saat ini, di tingkat global, ada kekhawatiran tentang Perang Dunia Ketiga,” ujarnya.
Prabowo menyoroti bahwa simulasi global konflik nuklir menunjukkan dampak transnasional yang luas.
Ini termasuk paparan partikel radioaktif, kontaminasi pasokan makanan, dan kerusakan lingkungan jangka panjang.
“Bahkan jika kita tidak terlibat, kita pasti akan terkena partikel radioaktif. Ikan kita mungkin terkontaminasi. Musim dingin nuklir akan terjadi, menghalangi matahari—bukan cuma satu atau dua tahun; para ahli mengatakan musim dingin itu bisa berlangsung dekade,” ia memperingatkan.
Menanggapi risiko ini, Prabowo menegaskan kembali komitmen Indonesia pada politik luar negeri bebas aktif, yang berakar pada non-blok dan penghindaran pakta militer.
Ia menggambarkan sikap ini baik sebagai mandat konstitusional maupun warisan para pendiri bangsa.
Di saat yang sama, ia mengingatkan bahwa non-blok memerlukan kemandirian.
“Jika kita betul-betul ingin tidak memihak, tidak ikut pakta, berarti kita sendiri. Jika kita terancam, jika kita diserang, tidak ada yang akan menolong kita,” pesannya kepada para pejabat.
Prabowo menekankan bahwa Indonesia harus membangun kemandirian nasional dan kepercayaan pada kekuatan sendiri, mencatat bahwa hubungan internasional tetap dibentuk oleh kekuatan, bukan cita-cita.
Presiden menegaskan bahwa tugas utamanya sebagai pemegang amanat rakyat adalah menjaga keamanan nasional dan melindungi seluruh rakyat Indonesia.
Meski Indonesia tidak mencari perang, katanya, negara harus selalu siap menghadapi ancaman potensial sebagai langkah pencegahan.
Prabowo juga mengarahkan perhatian pada sumber daya alam Indonesia yang melimpah, yang secara historis menarik minat asing.
Ia menunjuk pada warisan kolonialisme sebagai pengingat akan pentingnya kewaspadaan dan pelestarian identitas nasional.
Indonesia harus tetap menjadi bangsa yang bersahabat namun berdaulat, katanya, menekankan perlunya menyeimbangkan keterbukaan dengan ketangguhan dalam menghadapi tekanan eksternal.
Berita terkait: Presiden Prabowo tekankan kepemimpinan etis di seluruh pemerintah
Berita terkait: Presiden hadiri Rapat Koordinasi Nasional 2026 di Bogor
Penerjemah: Andi Firdaus/Fathur Rochman, Resinta S
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Hak Cipta © ANTARA 2026