Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polhukam) mempertimbangkan untuk menarik pasukan TNI dari Lebanon jika kondisi di lapangan tidak mendukung dan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) tidak bisa menjamin perlindungan mereka.
“Jika mandat UNIFIL sudah tidak mampu memberikan perlindungan bagi personel pemelihara perdamaian, maka penarikan pasukan lebih awal adalah salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan,” kata kepala Biro Humas dan Informasi Kemenko Polhukam, Brigadir Jenderal Honi Havana, pada Selasa (12/5).
Dia menyebut pilihan ini menunjukkan sikap pemerintah Indonesia yang mengutamakan keselamatan para prajurit.
Meski begitu, Havana percaya pengiriman pasukan TNI ke Lebanon masih memungkinkan karena beberapa alasan.
Berita terkait: Mahfud MD desak jaminan keamanan untuk pasukan TNI di Lebanon
Pertama, pemerintah akan terus menerima laporan terbaru dari TNI dan Kedubes RI di Beirut mengenai area yang masih rawan konflik.
TNI dan Kedubes RI di Beirut, tambahnya, juga sudah menyiapkan langkah mitigasi jika terjadi insiden yang mengancam keselamatan prajurit.
Kedua, pemerintah bisa memindahkan pasukan dari satu lokasi ke lokasi lain.
“Penataan ulang dan reposisi kekuatan pasukan dengan mempertimbangkan efektivitas perlindungan bisa melibatkan pengosongan atau pemindahan pos satgas sesuai dengan situasi keamanan yang berlaku,” jelasnya.
Berita terkait: MPR Indonesia desak PBB menjatuhkan sanksi pada Israel
Faktor ketiga adalah komitmen pemerintah untuk menjunjung tinggi prinsip transparansi dan independesi PBB dalam menyelidiki insiden apa pun yang mengancam keamanan personel TNI di Lebanon.
“Kami berkomitmen memastikan akuntabilitas pihak yang bertanggung jawab, mekanisme perlindungan PBB, dan menegakkan hukum internasional terkait keamanan pasukan penjaga perdamaian,” kata Havana.
Dengan faktor-faktor ini, dia yakin personel TNI di Lebanon akan mendapat dukungan penuh dari pemerintah dan PBB. Pemerintah berencana mengirim 780 personel TNI ke Satuan Tugas Kontingen Garuda UNIFIL pada akhir Mei 2026. Pasukan ini akan menggantikan prajurit TNI yang sebelumnya bertugas selama satu tahun di Lebanon.
Berita terkait: Indonesia bersiap memulangkan prajurit TNI keempat yang tewas di Lebanon
Penerjemah: Walda Marison, Resinta Sulistiyandari
Editor: Fransiska Ninditya
Hak cipta © ANTARA 2026