Menteri Ketenagakerjaan Yassierli berkomitmen untuk mendesentralisasikan program magang nasional andalan Indonesia. Tujuannya untuk mengurangi konsentrasi kesempatan yang terlalu padat di Pulau Jawa dan meningkatkan prospek kerja bagi lulusan di daerah terpencil.
Dalam sebuah acara di Jakarta pada hari Jumat, Yassierli mengatakan bahwa penempatan magang saat ini masih terlalu terfokus di Jawa—pusat ekonomi dan politik nasional. Ia menegaskan strategi kementerian adalah beralih dari sekedar memberi pengalaman kerja menjadi membangun jalur ketenagakerjaan yang lebih terintegrasi untuk seluruh nusantara.
Menteri menjabarkan rencana perluasan penempatan supaya talenta lokal bisa mendapat kesempatan di provinsi asal mereka, tanpa harus pindah ke ibukota. Selain keseimbangan geografis, Yassierli juga mendorong diversifikasi akademik dengan membuka program untuk lebih banyak disiplin ilmu, memastikan lulusan baru memperoleh pengalaman yang sesuai.
Pemerintah berharap program ini berevolusi di iterasi berikutnya. “Di tahun kedua, selain memberi pengalaman kerja, kami juga ingin peserta mendapat sertifikasi dan diterima oleh perusahaan,” kata Yassierli, seraya menyebut transisi ini butuh “upaya kolektif yang kuat” dari sektor publik dan swasta.
Program Magang Nasional adalah inisiatif negara besar untuk menjembatani teori akademik dengan kebutuhan industri. Saat ini sekitar 100.000 peserta bergabut di seluruh negeri. Fase pertama berakhir pada 19 April 2026, dengan hampir 15.000 peserta menyelesaikan magang di berbagai perusahaan swasta, kementerian, dan lembaga negara.
Berdasarkan aturan saat ini, peserta magang yang menjalani enam bulan penuh mendapat sertifikat resmi, sementara mereka yang magang minimal tiga bulan mendapatkan surat keterangan.