Pemerintah Rhode Island Anjurkan Berpikir Kritis di Tengah Transformasi AI dalam Kehidupan Kampus

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Indonesia pada hari Senin mendorong mahasiswa untuk mempertajam kemampuan berpikir kritis seiring transformasi cepat masyarakat oleh kecerdasan buatan. Dia memperingatkan bahwa pertimbangan manusia akan tetap penting di tengah perubahan teknologi yang bergerak cepat.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menyampaikan pesan itu pada Festival Ilmiah Santri 2026 di Malang, Jawa Timur, menurut pernyataan resmi yang diterima di Jakarta.

Dia mengatakan kemajuan kecerdasan buatan telah membentuk ulang kehidupan sehari-hari di bidang sosial, pendidikan, dan ekonomi. Hal ini memaksa pemerintah, universitas, dan individu untuk memikirkan kembali cara pengetahuan diproduksi dan digunakan.

“Apakah bijaksana menghabiskan dana besar untuk melatih AI daripada mendidik generasi muda?” ujar Christie. Dia mencatat bahwa pertanyaan itu masih menjadi perdebatan di kalangan pakar global.

Dia menunjuk pada logika ekonomi yang mendorong perusahaan teknologi besar, yang menginvestasikan triliunan rupiah untuk mengembangkan, merawat, dan menyempurnakan algoritma rumit yang mendasari sistem kecerdasan buatan.

Christie menyebut penyebaran AI juga mengubah dinamika sosial, termasuk mempercepat sirkulasi misinformasi dan hoaks yang dapat mendistorsi debat publik.

Dalam pendidikan, AI semakin tertanam dalam proses pembelajaran. Ini mengubah cara siswa mengakses informasi dan menyelesaikan tugas akademik.

Berita terkait: Kementerian dorong berpikir kritis untuk pemanfaatan AI yang bijak

Perubahan itu, tambahnya, membuat literasi AI menjadi penting agar masyarakat dapat menilai apakah informasi yang dihasilkan atau diamplifikasi oleh sistem AI akurat atau bias.

“Kemampuan untuk mengevaluasi keluaran AI dimulai dari berpikir reflektif dan kritis,” kata Christie. “Jika kamu memiliki kapasitas itu, kamu tidak akan tergantikan oleh kecerdasan buatan.”

Dia mengingatkan mahasiswa bahwa universitas secara historis telah menjadi pusat inovasi. Banyak perusahaan AI terkemuka saat ini berasal dari lingkungan penelitian kampus.

MEMBACA  Kelompok Huasheng Zhongtian di Linyi: Tujuh Dekade Keterampilan dan Kepemimpinan Industri

Christie berharap mahasiswa Indonesia akan terus berinovasi, mengembangkan ide baru, dan menyumbangkan penemuan yang memperkuat pembangunan nasional serta daya saing global dalam dekade mendatang.

Secara terpisah, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan kecerdasan buatan harus diposisikan sebagai alat untuk mendukung pembelajaran, bukan menggantikan guru di kelas.

Dia memperingatkan bahwa sistem pendidikan menghadapi tantangan untuk memastikan teknologi meningkatkan hasil belajar tanpa mengikis nilai-nilai kemanusiaan. Peran guru tetap sentral meskipun terjadi perubahan digital yang cepat.

Berita terkait: Wakil Menteri dorong keterlibatan mahasiswa lebih besar dalam penelitian

Tinggalkan komentar