NIS: Korut Jaga Jarak dari Iran dan Rayu AS, Apa yang Terjadi?

Selasa, 7 April 2026 – 10:00 WIB

VIVA – Korea Utara kelihatannya mulai menjaga jarak dari sekutu lamanya, Iran. Hal ini diduga untuk membuka hubungan baru dengan Amerika Serikat. Begitu penilaian dari badan intelijen Korea Selatan.

Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (NIS) tidak melihat ada tanda-tanda bahwa Korea Utara mengirim senjata atau bantuan ke Teheran sejak perang antara AS dan Israel melawan Iran mulai pada akhir Pebruari. Info ini disampaikan anggota parlemen Park Sun-won, yang hadir dalam pengarahan tertutup dari NIS pada Minggu waktu setempat.

Menurut laporan Al Jazeera, Selasa 7 April 2026, NIS juga mencatat bahwa dibandingkan dengan sekutu Iran lain seperti China dan Rusia yang sering keluarkan pernyataan, Kementerian Luar Negeri Korea Utara sejauh ini hanya merilis dua pernyataan dengan nada yang lebih hati-hati.

Meskipun Pyongyang mengecam serangan AS dan Israel ke Iran sebagai tindakan ilegal, mereka tidak menyampaikan belasungkawa secara terbuka atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Mereka juga tidak mengirim ucapan selamat saat putranya, Mojtaba Khamenei, menggantikannya.

Menurut NIS, sikap hati-hati ini kemungkinan adalah strategi Korea Utara untuk mempersiapkan babak diplomasi baru dengan AS setelah konflik di Timur Tengah mereda.

Dalam kesempatan yang sama, NIS juga menyampaikan kepada anggota parlemen bahwa Pemimpin Kim Jong Un sekarang dipercaya sedang mempersiapkan putri remajanya sebagai calon penerus. Hal ini merujuk pada penampilan publik terbaru sang putri yang terlihat mengendarai tank.

Citra tersebut dinilai sebagai upaya untuk menonjolkan kemampuan militernya. Putrinya yang dipercaya bernama Ju Ae itu diperkirakan berusia sekitar 13 tahun.

Menurut Park, adegan seperti ini dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan terhadap penampilan Kim Jong Un sendiri di depan publik militer pada awal 2010-an, saat dia dipersiapkan untuk menggantikan ayahnya.

MEMBACA  Medan Sumatera Utara Kembali Pulih Pasca-Bencana: Menteri

Sebelumnya, adik perempuan Kim, Kim Yo Jong, sempat disebut sebagai kandidat kuat penerus kepemimpinan.

Pada Senin, Kim Yo Jong kembali menjadi sorotan media Korea Utara setelah menyambut permintaan maaf yang disampaikan Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, terkait insiden drone pada Januari lalu.

“Presiden Republik Korea secara pribadi menyampaikan penyesalan dan langkah untuk mencegah kejadian serupa. Pemerintah kami menilai ini sebagai sikap yang bijak dan patut diapresiasi,” ujar Kim Yo Jong dalam pernyataan yang disiarkan kantor berita resmi KCNA.

Tinggalkan komentar