Nasib Yen Semakin Suram, Investor Mulai Waspadai Intervensi Baru dari Jepang

Kamis, 4 Juni 2026 – 06:31 WIB

Jakarta, VIVA – Yen Jepang kembali nyentuh level psikologis 160 per dolar Amerika Serikat (AS), bikin pasar khawatir bakal ada intervensi baru dari pemerintah Jepang. Mata uang Negeri Sakura ini makin lemah di tengah penguatan dolar AS yang didorong sama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS alias Federal Reserve (The Fed).

Pas perdagangan Rabu, yen turun sampai ke level yang sebelumnya jadi titik intervensi otoritas Jepang. Pelemahan ini ngilangin penguatan yen yang sempat terjadi abis pemerintah Jepang ngucurkan dana 11,7 triliun yen atau sekitar US$73 miliar (setara Rp1,31 kuadriliun dengan kurs Rp17.900 per dolar AS) sebulan lalu buat nopang nilai tukar.

Penguatan dolar terjadi gegara konflik di Timur Tengah makin memanas. Amerika Serikat bilang Iran ngeluncurin rudal balistik ke beberapa negara tetangga di kawasan itu, meskipun semua rudal dilaporkan gagal nyampe sasaran. Sebagai respons, militer AS melakukan serangan ke Pulau Qeshm milik Iran.

Di sisi lain, perundingan diplomatik antara Iran dan AS masih mentok. Kondisi ini bikin investor cenderung cari aset yang dianggap aman, termasuk dolar AS. Yen jadi salah satu mata uang yang tertekan dalam situasi begini. Selain faktor penguatan dolar, Jepang juga rentan sama naiknya harga energi karena masih bergantung sama impor minyak dan gas dari luar negeri.

Marc Chandler, Kepala Strategi Pasar di Bannockburn Global Forex, bilang risiko tentangan Bank of Japan (BoJ) emang meningkat, tapi belum cukup buat ngubah perilaku pasar. “Semua orang tau risiko intervensi BoJ udah naik, tapi itu gak bener-bener bikin pasar gertar,” kata Chandler, dikutip dari Reuters, Kamis, 4 Juni 2026.

MEMBACA  8 Film dan Serial yang Dibintangi Ariana Grande, Terkenal Melalui Nickelodeon

“Intervensi yang dilakukan pada akhir April dan Mei itu yang terbesar dalam sejarah. Nilai tukar sempat turun, tapi sekarang balik lagi ke level sebelumnya. Jadi, apapun yang dibeli Jepang lewat intervensi itu, ternyata gak kasih banyak waktu,” ungkapnya.

Sementara itu, Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, bilang pemerintah siap respon pergerakan nilai tukar kalo diperlukan. Pernyataan itu sempat ngasih dukungan buat yen sebelum akhirnya mata uang tersebut balik melemah ke level 160 per dolar AS.

Gubernur Bank of Japan memprediksi kemungkinan kenaikan jika tingkat risiko dari perubahan terpengaruh.

Tinggalkan komentar