Menyimpan Uang Tunai Terlalu Lama: Kebiasaan yang Mengikis Kekayaan

Senin, 9 Februari 2026 – 14:10 WIB

Jakarta, VIVA – Di tengah berita ekonomi yang tidak pasti dan harga-harga yang terus melonjak, banyak orang secara refleks melakukan satu hal yaitu menabung uang tunai sebanyak-banyaknya. Saldo tabungan terlihat utuh, tidak naik turun seperti saham, dan rasa-nya memberi kita kendali.

Baca Juga :


Trader Forex Pantau Bitcoin untuk Dapatkan Reaksi Awal terhadap Perubahan Kebijakan, Mengapa?

Secara psikologis, ini terasa seperti keputusan paling aman. Tapi para ahli keuangan mengingatkan, rasa aman itu bisa menipu.

Menyimpan uang dalam bentuk tunai memang memberi stabilitas secara nominal, tetapi tidak secara riil. Maksudnya, angka di rekening kamu mungkin tidak berubah, tetapi kemampuan uang itu untuk membeli barang dan jasa terus melemah.

Baca Juga :


Jika Ekonomi Tumbuh 7 Persen, Purbaya Pede Investor Asing Bakal Serbu Indonesia

Dalam jangke panjang, kebiasaan menimbun uang tunai justru bisa menggerogoti kekayaan secara perlahan tanpa kita sadari. Soalnya, secara riil, nilai uang tersebut terus terkikis. Saat kamu diam, inflasi terus bergerak.

Inflasi bukan cuma soal harga naik, tetapi tentang uang yang kehilangan daya belinya. Dengan tingkat inflasi 4–6 persen, uang sebesar US$10.000 atau sekitar Rp168 juta yang tampak utuh di atas kertas bisa kehilangan sepertiga atau lebih dayabelinya dalam 10 tahun.

Baca Juga :


Airlangga Buka Suara soal Wacana Naiknya Limit Investasi Dapen & Asuransi di Pasar Modal

“Satu hal yang akan saya katakan adalah investasi terburuk yang bisa kamu miliki adalah uang tunai yang nilainya akan menjadi lebih rendah seiring waktu. Tetapi bisnis yang baik akan menjadi lebih bernilai seiring waktu,” kata Warren Buffett, seperti dikutip dari Investopedia, Senin, 9 Februari 2026.

MEMBACA  Kepala IAEA meyakinkan warga bahwa pembuangan air limbah yang diolah di pabrik nuklir Fukushima aman

Secara umum, para ahli setuju bahwa uang tunai bukan pertahanan jangka panjang yang efektif melawan inflasi karena pertumbuhannya jarang cukup cepat untuk menjaga daya beli. Biaya sebenarnya bukan cuma apa yang diambil inflasi, tetapi juga peluang yang terlewat, yaitu imbal hasil dari aset yang bisa tumbuh, berbunga majemuk, atau menyesuaikan diri dengan kenaikan harga.

Meski begitu, ada kondisi dimana memegang uang tunai itu penting. Dana darurat untuk 3–6 bulan pengeluaran, atau dana untuk kebutuhan jangka dekat seperti DP rumah, biaya kuliah, atau perbaikan besar, memang lebih cocok disimpan dalam bentuk yang likuid dan stabil.

Kuncinya adalah tujuannya. Uang tunai efektif sebagai bantalan dan jembatan, bukan tempat berlindung jangka panjang dari inflasi. Daripada membiarkan uang menganggur, pakar sering menyarankan “parkir” yang lebih cerdas. Tabungan berbunga tinggi dan reksa dana pasar uang bisa sedikit meredam dampak inflasi. Obligasi lindung inflasi yang dirancang menyesuaikan nilai dengan kenaikan harga, meskipun likuiditasnya lebih rendah.

Halaman Selanjutnya

Untuk jangka lebih panjang, saham pembagi dividen, ETF saham luas, serta aset riil seperti properti atau komoditas, memberi potensi pertumbuhan dan sensitivitas terhadap inflasi, meski dengan fluktuasi yang menuntut kesabaran.

Tinggalkan komentar