sedang memuat…
Donald Trump ticak bisa menciptakan perdamaian. Foto/X
TEHERAN – Presiden AS Donald Trump ingin menjadi “pemimpin acara”. Hal itu diungkapkan Abdullah al-Shayji, profesor ilmu politik di Universitas Kuwait, dalam Forum Al Jazeera di Doha.
Mengapa Trump Tidak Bisa Menciptakan Perdamaian saat Armada AS Siap Perang?
1. Trump Tidak Punya Legitimasi
“Trump ingin jadi pemimpin; ia ingin menjadi nomor satu,” kata al-Shayji. Namun, apa yang disebut Dewan Perdamaian yang dibentuk Trump adalah “sesuatu yang samar” dan “tidak memiliki legitimasi”.
“[Perdana Menteri Israel Benjamin] Netanyahu dicari oleh ICC, dan ia seharusnya diserahkan, dan ia masih melakukan kejahatan perang setiap hari,” tambahnya.
2. Berkoalisi dengan Netanyahu
“Trump ingin menjadi tokoh perdamaian internasional dengan slogan atau isu apa pun… tetapi Anda tidak dapat menciptakan perdamaian ketika Anda bersiap untuk perang dan mengancam; Anda tidak dapat menciptakan perdamaian ketika Anda membentuk koalisi dengan Netanyahu, dan Anda bertemu dengannya untuk keenam kalinya,” tegas al-Shayji.
3. Negosiasi Jadi Kunci
Kebijakan Presiden AS Donald Trump tentang “tidak adanya bom nuklir Iran sepenuhnya dapat dinegosiasikan,” ujar Hassan Ahmadian, seorang profesor ilmu politik di Universitas Teheran, kepada Al Jazeera.
“Orang Iran mengatakan, kita dapat mencapai kesepakatan, kerangka kerja yang dapat menjamin program nuklir kita tidak akan bergeser ke arah… program militer,” katanya dari Teheran.
4. Selalu Berpikir tentang Imbalan
Ahmadian mengatakan Iran sedang terlibat dalam pembicaraan untuk membahas “batasan pada program nuklir yang dapat memenuhi kekhawatiran yang muncul di Amerika Serikat, tetapi juga di tempat lain, di Eropa, di tempat lain, sebagai imbalan atas pencabutan sanksi”.
“Jika Presiden Trump hari ini berkomentar tentang kesepakatan nuklir tanpa isu lain yang diangkat, [itu] harus dianggap serius; saya pikir berpotensi ada kesepakatan antara keduanya, karena secara teknis jaminan dapat diberikan agar Iran tidak bergerak menuju persenjataan program nuklirnya,” pungkasnya.
(ahm)