Jakarta (ANTARA) – Mantan Presiden Indonesia Megawati Soekarnoputri mengusulkan untuk menyelenggarakan konferensi Asia-Afrika yang kedua guna mencari solusi baru atas ketegangan geopolitik modern dan upaya perdamaian dunia.
“Penyelenggaraan Konferensi Bandung 2.0 sangat relevan dengan era saat ini,” ujar Megawati pada Sabtu.
Dia merujuk pada ayahnya, bapak pendiri Indonesia Soekarno, dengan menambahkan, “Disini, pemikiran geopolitik Bung Karno menjadi kompas bagi masa depan bangsa dan dunia.”
Berbicara dalam peringatan 71 tahun Konferensi Bandung yang diadakan partai PDIP, Megawati memperingatkan bahwa ancaman neo-kolonialisme dan neo-imperialisme muncul kembali dalam bentuk baru.
Dia menyatakan optimisme bahwa konferensi kedua akan memberdayakan negara-negara merdeka untuk menjaga kedaulatannya dari tekanan eksternal.
Selain kerja sama regional, mantan presiden tersebut menyerukan perubahan total pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Megawati berargumen bahwa struktur kekuasaan PBB saat ini masih terlalu terkonsentrasi pada negara-negara pemenang Perang Dunia II.
Megawati mencatat bahwa Soekarno sendiri sebelumnya telah menyerukan reformasi atau “penataan ulang” PBB, karena kesetaraan global adalah agenda utamanya.
Untuk mencapai ini, dia mengadvokasi penghapusan hak veto yang dimiliki anggota tetap Dewan Keamanan, yang diyakininya melanggengkan ketidaksetaraan global.
Dia juga mengusulkan untuk memindahkan markas besar PBB ke lokasi yang lebih netral untuk memastikan imparsialitas, serta mengusulkan amendemen Piagam PBB untuk mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi internasional baru.
Megawati menunjuk intervensi Amerika Serikat di negara-negara seperti Venezuela dan Iran sebagai contoh aksi yang memperburuk ketidakstabilan global, sehingga membuat reformasi struktural ini semakin mendesak.
Konferensi Asia-Afrika pertama diadakan di Bandung, Jawa Barat, pada 18–24 April 1955. Konferensi itu menghasilkan Dasasila Bandung, seperangkat prinsip penting yang memandu negara-negara Asia dan Afrika dalam perjuangan melawan kolonialisme dan untuk menentukan nasib sendiri.
Penerjemah: Bagus Ahmad Rizaldi, Nabil Ihsan
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Hak Cipta © ANTARA 2026