Kepemimpinan yang Bebas dari Kerangka

sedang memuat…

Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Kepemimpinan Pendidikan Islam Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Foto/UDN Jakarta.

Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Kepemimpinan Pendidikan Islam, Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta.

Dalam artikel sebelumya tentang pemikiran KH. Sofwan Manaf, kami sempat menyinggung filosofi sederhana: “Banyak yang tahu Darunnajah, tapi tidak tahu siapa pimpinannya.” Ini bukan sekedar retorika untuk menunjukkan kerendahan hati. Tapi ini adalah cara pandang yang menempatkan lembaga di atas figur perorangan.

Filosofi tersebut ternyata terinspirasi oleh Trimurti Pondok Modern Gontor. KH. Ahmad Sahal, KH. Zainuddin Fananie, dan KH. Imam Zarkasyi membangun sistem pendidikan yang sekarang telah melahirkan ratusan pesantren modern. Tanpa mendeklarasikan diri sebagai pendiri resmi. Dan tanpa memungut biaya royalti sama sekali.

Sebagai bagian dari tradisi Gontor, kami ingin merefleksikan model kepemimpinan seperti ini. Tujuannya bukan untuk meromantisasi, juga bukan untuk mengkritik. Melainkan untuk memahami relevansinya bagi dunia pendidikan Islam masa kini.

Keikhlasan yang Terbukti Nyata

Prof. Hamid Fahmi Zarkasyi pernah bercerita dalam suatu Forum Perguruan Tinggi Alumni Gontor. Pada era 1970-an, hanya ada empat atau lima pondok alumni yang dikenal masyarakat. Seperti Darul Arqam Jember, Pabelan Magelang, Darunnajah Jakarta, dan Daar el Qolam Banten. Sekarang, jumlahnya sudah berlipat ratusan kali.

Yang menarik perhatian bukan cuma angka pertumbuhannya. Tapi juga kualitas yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga tersebut.

Lihatlah deretan nama alumni ternama yang lahir dari model ini. KH. Hasyim Muzadi pernah menjadi Ketua Umum PBNU dan tokoh dialog antar-agama tingkat dunia. Prof. Din Syamsuddin memimpin Muhammadiyah dan juga menjadi presiden World Conference on Religion and Peace. Serta KH. Dr. Idham Chalid yang ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional.

MEMBACA  Saham-saham mingguan dari Investing.com Oleh Investing.com

Ini bukan suatu kebetulan. Ini adalah bukti bahwa *sibghah nafsiyah* atau internalisasi nilai keikhlasan yang ditanamkan oleh Trimurti Gontor benar-benar membuahkan hasil.

KH. Hasyim Muzadi sendiri pernah menyatakan bahwa semua pidatonya di forum internasional adalah “modal yang diambil dari Gontor.” Sebuah pengakuan bahwa nilai-nilai yang ditanamkan puluhan tahun lalu tetap hidup dan relevan bahkan di panggung global.

Memahami Konteks Sejarahnya

Untuk bisa memahami model kepemimpinan Trimurti, kita harus menempatkannya dalam konteks sejarah yang tepat.

Gontor didirikan pada tahun 1926. Saat itu, Indonesia belum merdeka. Sistem pendidikan nasional pun belum terbentuk. Konsep seperti akreditasi, standarisasi kurikulum, atau penjaminan mutu belum dikenal sama sekali. Yang ada hanyalah visi besar dari tiga bersaudara tersebut tentang pendidikan Islam yang membebaskan dan mencerahkan.

Tinggalkan komentar