Senin, 6 April 2026 – 10:35 WIB
Jakarta, VIVA – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi atau biasa dipanggil Kiki, mengungkapkan bahwa dinamika geopolitik di Timur Tengah berpotensi berdampak pada sektor jasa keuangan Indonesia melalui tiga saluran utama.
Hal ini disampaikannya dalam telekonferensi pers mengenai hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK periode Maret 2026.
Dia menjelaskan, eskalasi konflik antara Iran dengan AS dan Israel berpotensi meningkatkan risiko dampaknya bagi sektor keuangan dalam negeri, lewat tiga saluran utama. “Yaitu melalui saluran pasar keuangan (financial market channel), kenaikan harga energi, dan saluran langsung dalam perdagangan serta eksposur investasi,” kata Kiki, Senin (6/4).
Oleh karena itu, OJK mendorong lembaga jasa keuangan di Indonesia untuk melakukan penilaian lanjutan yang bersifat antisipatif, sembari memperkuat langkah-langkah pencegahan. “Termasuk dengan memperkuat manajemen risiko, memantau kinerja debitur dengan intensif, serta menjaga kecukupan likuiditas dan permodalan,” ujarnya.
Selain itu, Kiki memastikan OJK akan terus memantau pergerakan pasar dan berkoordinasi dengan organisasi pengatur mandiri (self-regulatory organization/SRO) untuk mengambil kebijakan yang diperlukan.
OJK menilai sejumlah kebijakan untuk menjaga stabilitas pasar modal masih relevan. Antara lain pembelian kembali saham tanpa RUPS, penundaan penerapan pembiayan transaksi short selling, kebijakan trading hold, dan batasan auto rejection. “Pada 13 Maret 2026, OJK dan BEI telah menetapkan pemberlakuan kembali kebijakan-kebijakan tersebut,” jelasnya.