Jakarta (ANTARA) – Kementerian Kesehatan RI melaporkan penurunan tajam kasus keracunan makanan yang terkait dengan program pemerintah "Makanan Bergizi Gratis" (MBG). Insidennya turun jadi hanya 12 kasus pada Desember 2025 seiring penguatan protokol keamanan.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengungkapkan pada Kamis bahwa program tersebut, yang sebelumnya mencatat ribuan insiden per bulan di tahap awalnya, telah mencatat nol kasus dalam 19 hari terakhir.
“Kami bersyukur bahwa sepanjang Desember 2025, hanya ada 12 insiden. Sebelumnya, angkanya mencapai ribuan—tiga ribu, dua ribu, lalu seribu—jadi semakin membaik setiap hari,” kata Octavianus kepada wartawan di Jakarta.
Penurunan ini dikaitkan dengan pengawasan yang lebih ketat oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Untuk mencapai target "insiden nol", Kementerian Kesehatan secara ketat memantau dan memperbarui registri dapur layanan yang memegang Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) wajib.
Di luar keamanan, pemerintah kini mengalihkan fokus pada intervensi gizi khusus.
Para pejabat kini bekerja untuk mengidentifikasi penerima manfaat yang memiliki alergi makanan spesifik, sambil mempertahankan porsi makan standar.
Tujuan akhir program ini adalah meningkatkan hasil kesehatan nasional, khususnya dengan mengurangi prevalensi stunting—suatu kondisi gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat gizi buruk—pada anak-anak Indonesia.
Diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto, program makanan gratis ini merupakan salah satu proyek kesejahteraan sosial paling ambisius di dunia.
Program ini bertujuan menyediakan gizi harian bagi 82,9 juta orang, termasuk pelajar dari PAUD hingga SMA, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Pada akhir tahun 2025, BGN telah membangun 19.188 dapur khusus di seluruh kepulauan, yang melayani sekitar 55,1 juta orang.
Pemerintah menargetkan untuk mencapai sasaran penuh hampir 83 juta penerima manfaat pada Februari 2026.
Penerjemah: Lintang Budiyanti, Raka Adji
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Hak Cipta © ANTARA 2026