Kasus Kanker pada Anak Meningkat Pesat, Padahal Kunci Pencegahannya Ada pada Nutrisi yang Tepat

Rabu, 18 Februari 2026 – 04:00 WIB

Jakarta, VIVA – Peringatan Hari Kanker Anak Sedunia lagi-lagi jadi momen untuk menyoroti tantangan besar dalam penanganan kanker pada anak-anak. Data dari Indonesian Pediatric Cancer Registry mencatat, selama 2021–2022 terjadi lonjakan kasus baru kanker anak hingga mencapai 3.834 kasus. Angka ini mengingatkan kita bahwa kanker bukan cuma ancaman buat orang dewasa, tapi juga buat anak-anak.

Medical General Manager PT Kalbe Farma Tbk, dr. Dedyanto Henky Saputra, M.Gizi, AIFO-K, menjelaskan kalau penyebab kanker pada anak beda dengan yang dialami orang dewasa. Lalu, apa penyebabnya? Scroll untuk tau jawabannya, yuk!

Menurut beliau, kanker yang dialami anak-anak terjadi bukan karena pola makan tidak sehat, walau ini bisa jadi pencetus kanker saat mereka dewasa. Penyebab utamanya adalah perubahan genetik atau mutasi pada DNA. Kedua, bisa juga karena paparan polutan. Ketiga, pertumbuhan sel-sel abnormal yang tidak bisa dimatikan oleh tubuh. Ia juga menekankan bahwa nutrisi adalah terapi dasar untuk keberhasilan pengobatan kanker pada anak usia dini, seperti dikutip Rabu (18/2/2026).

Dalam konteks kanker anak, nutrisi bukan cuma soal makan yang cukup. Asupan gizi yang tepat adalah pondasi penting agar tubuh anak kuat menghadapi efek samping terapi, seperti kemoterapi, dan sekaligus mempercepat pemulihan.

Masalahnya, banyak anak yang sedang terapi kanker mengalami gangguan makan. Mual, muntah, sampai sariawan sering bikin nafsu makan mereka turun drastis. Kalau kondisi ini nggak ditangani, anak bisa berisiko mengalami malnutrisi.

“Malnutrisi adalah gejala awal dari kondisi anoreksia, artinya hilangnya nafsu makan. Kalau kebutuhan nutrisi yang tidak tercukupi ini nggak ditangani, kondisi malnutrisi yang awalnya ringan bisa berubah menjadi berat, yaitu cachexia,” jelas dr. Dedyanto.

MEMBACA  SpaceX Dilaporkan Memaksa Spektrum Dari Pesaing yang Ingin Naik di Roket

Cachexia tidak hanya ditandai dengan penurunan berat badan, tapi juga hilangnya massa otot secara progresif yang disertai gangguan metabolik. Dalam tahap lanjut, kondisi ini bisa berkembang jadi sarcopenia, yaitu penurunan massa dan kekuatan otot yang semakin memperburuk daya tahan tubuh anak.

Oleh karenanya, deteksi dini risiko malnutrisi menjadi bagian penting dalam penanganan kanker anak. Pendampingan nggak cuma melibatkan dokter, tapi juga ahli gizi yang berperan menyusun strategi pemenuhan nutrisi sesuai kondisi klinis tiap pasien.

Tinggalkan komentar