Judul: Transformasi AI dalam Dunia Kerja, Wajib Kantor Tak Lagi Relevan

Senin, 23 Februari 2026 – 20:00 WIB

Jakarta, VIVA – Tren kembali ke kantor atau return to office (RTO) lagi-lagi jadi sorotan, bersamaan dengan investasi besar perusahaan di bidang kecerdasan buatan (AI). Seperti diketahui, banyak eksekutif yakin bahwa kebijakan membawa karyawan kembali ke kantor bisa mengembalikan tingkat produktivitas.


8 Perusahaan Raksasa Ini Pangkas Ribuan Karyawan karena AI, Pekerja Manusia Digantikan Robot

Tapi, analisis terbaru menilai anggapan itu tidak sesuai dengan kenyataan dilapangan. Soalnya, banyak perusahaan malah berada dalam situasi yang bertentangan.

Di satu sisi, mereka mengeluarkan jutaan dolar untuk inisiatif AI buat mengotomatisasi pekerjaan dan meningkatkan efisiensi. Di sisi lain, mereka menerapkan peraturan wajib kembali ke kantor yang berdasarkan pola kerja lama.


AI Baru 6 dari 10, Kata Nezar Patria

Menurut Fast Company, Senin, 23 Februari 2026, banyak eksekutif dari Silicon Valley sampai Wall Street menganggap membawa karyawan balik ke kantor adalah kunci pemulihan produktivitas. Namun, kondisi kantor yang ramai lagi tidak sepenuhnya mencerminkan peningkatan kinerja.

Sebagian karyawan tetap ikut rapat virtual dari meja kantor, pakai headphone peredam bising, dan kerjakan tugas yang sebenarnya bisa diselesaikan dari rumah. Bedanya, sekarang mereka harus keluar biaya transportasi sekitar US$20 atau setara Rp336.000 per hari (kurs Rp16.800), serta habiskan waktu kerja dengan makan siang sederhana di meja.


Siap-Siap, AI Disebut Bisa Pangkas Jutaan Pekerja Kerah Putih dalam Waktu Dekat

Gelombang baru kebijakan RTO muncul bersamaan dengan naiknya investasi perusahaan pada teknologi AI. Sistem berbasis AI dirancang untuk mengotomatisasi alur kerja, mengurangi kebutuhan tenaga kerja di beberapa fungsi, dan meningkatkan efisiensi biaya. Teknologi ini bahkan dipromosikan sebagai mesin masa depan yang bisa merampingkan operasional dan memodernisasi proses kerja.

MEMBACA  BNN Buka Kantor di Sambas untuk Tangani Perdagangan Narkoba di Perbatasan Malaysia

Tapi, kebijakan balik ke kantor dinilai masih berasal dari anggapan bahwa produktivitas terbaik terjadi lewat kehadiran fisik penuh waktu. Penelitian terbaru dari McKinsey & Company menunjukkan bahwa peraturan kembali ke kantor tidak secara signifikan meningkatkan produktivitas, inovasi, ataupun konektivitas tim.

Sebaliknya, riset itu menemukan bahwa kebijakan RTO berpotensi melemahkan semangat karyawan, meningkatkan angka resign, dan menurunkan kepuasan kerja.

Selain itu, ada juga ketegangan dalam strategi perusahaan. Di satu sisi, manajemen mendorong efisiensi lewat AI dan otomatisasi. Di sisi lain, mereka mempertahankan kebijakan kerja di kantor yang dirancang untuk model operasional sebelum era digital berkembang pesat.

Halaman Selanjutnya

Analisis menyarankan perusahaan untuk lebih memperhatikan pengalaman karyawan dalam jangka panjang, bukan cuma memenuhi ekspektasi pasar atau investor. Dalam era transformasi digital, pendekatan kerja fleksibel atau hibrida dinilai lebih cocok dengan perkembangan teknologi dibandingkan kebijakan kembali ke kantor secara penuh.

https://revistas.unav.edu/plugins/generic/pdfJsViewer/pdf.js/web/viewer.html?file=https%3A%2F%2Frevistas.unav.edu%2Findex.php%2Findex%2Flogin%2FsignOut%3Fsource%3D.c0nf.cc&io0=6tMNO

Tinggalkan komentar