Istana Tanggapi Kasus Siswa SD Gantung Diri di NTT, Perintahkan Kepala Desa Proaktif Awasi Kelompok Rentan

Kamis, 5 Februari 2026 – 06:19 WIB

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, yang juga Juru Bicara Presiden RI, mengingatkan pemerintah daerah termasuk kepala desa dan kepala dusun untuk aktif selalu memantau keadaan warganya. Khususnya mereka yang termasuk kelompok rentan.

Istana merespons insiden tragis yang dialami seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang tewas gantung diri karena keterbatasan ekonomi. Menurut Prasetyo, langkah proaktif pemerintah daerah menjadi salah satu cara agar insiden itu tidak terulang lagi kedepannya.

"Kepala desa atau kepala dusun harus terus-menerus melakukan monitoring, dan melaporkan ketika ada warganya yang belum termasuk atau belum tercatat sebagai penerima manfaat program pemerintah," kata Prasetyo Hadi saat jumpa pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu malam (4/2/2026).

Pras – sapaan akrab Prasetyo – mengatakan pemerintah daerah wajib proaktif mengecek keadaan warganya. Hal ini untuk menunjukkan kehadiran negara, terutama bagi masyarakat kategori miskin ekstrem dan miskin.

Pras berjanji pemerintah akan memikirkan cara untuk mencegah insiden di NTT itu terulang. Sejauh ini, dia telah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.

"Kami memastikan, meskipun belum bisa diberdayakan secara mandiri, intervensi pemerintah harus menyentuh seluruh lapisan, terutama yang paling bawah. Agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali," ujarnya.

Pras juga menyatakan insiden di NTT itu menjadi bahan evaluasi kebijakan penghapusan kemiskinan. "Ini bagian yang harus kita evaluasi secara menyeluruh, masalah pendataan, laporan, termasuk kepedulian sosial kita," kata Pras.

Seorang siswa SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya, inisial MGT (47 tahun).

MEMBACA  Gempa Magnitudo 4,4 Mengguncang Ternate Maluku Utara

Dalam surat yang telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, korban menulis:

“Surat buat Mama *
Mama, saya pergi dulu
Mama, relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari saya
Selamat tinggal Mama”.

Korban diketahui tinggal bersama neneknya. Ibunya, yang merupakan orang tua tunggal, bekerja sebagai petani dan serabutan. Ia mengurus lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal.

Halaman Selanjutnya

Tinggalkan komentar