Selasa, 3 Maret 2026 – 01:04 WIB
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa kesyahidan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa pejabat senior akibat serangan brutal Amerika Serikat dan Israel tidak akan membuat Republik Islam tumbang.
Menurut Boroujerdi, Iran adalah negara yang “kuat” dan “sangat tua”, sehingga tidak akan jatuh karena serangan teror. Justru, AS dan Israel-lah yang melakukan kesalahan fatal dengan memulai serangan ini.
“Mereka yang berpikir dengan teror dan mensyahidkan pejabat bisa menyaksikan jatuhnya sistem ini, mereka keliru,” kata Dubes Boroujerdi dalam konferensi pers di Menteng, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026).
Setelah Ayatollah Khamenei dipastikan syahid dalam serangan pada Sabtu, 28 Februari 2026, Boroujerdi memastikan pemerintahnya menunjuk pemimpin baru hanya dalam hitungan jam. “Karena Republik Islam Iran adalah pemerintahan yang kuat dan terorganisir, tidak seperti beberapa rezim di kawasan,” tegasnya.
Berdasarkan konstitusi Iran, jika seorang pemimpin tidak bisa menjalankan tugasnya, kepemimpinan diserahkan kepada Dewan Kepemimpinan Sementara. Dewan sementara Iran saat ini terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua MA Mohseni Eje’i, dan ulama Garda Revolusi Ayatullah A’rafi.
Dewan ini akan bertugas sampai Majelis Ahli dapat mengadakan sidang dan memilih pemimpin baru.
Diketahui, AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada Sabtu lalu. Ini merupakan serangan kedua setelah serangan pertama pada Juni 2025.
Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer besar diluncurkan untuk meniadakan ancaman dari dugaan pengembangan senjata nuklir Iran.
Bulan Sabit Merah Iran menyatakan korban tewas akibat serangan sejak 28 Februari meningkat menjadi 555 orang. Serangan tersebut menargetkan 131 kawasan permukiman di seluruh Iran.