Jakarta (ANTARA) – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berupaya memastikan panel surya buatan lokal dibebaskan dari bea masuk AS yang bisa melonjak hingga ratusan persen.
“Kami memperjuangkan agar mereka mematuhi tarif yang ditetapkan dalam ART (Perjanjian Perdagangan Timbal Balik). Kalau tarifnya 15 persen, ya harus maksimal 15 persen. Tidak boleh lebih dari 15 persen,” kata Wakil Menteri ESDM Yuliot pada Jumat.
Yuliot menyatakan telah meninjau panel-panel surya yang terkena tarif hingga beberapa ratus persen itu.
Dia menjelaskan, panel yang kena tarif tinggi AS itu sebenarnya tidak diproduksi di Indonesia, melainkan hanya melalui proses pelabelan ulang di negara ini, sebuah praktik yang dikenal sebagai transshipment.
Transshipment adalah tindakan memindahkan atau mengirim barang dari satu negara ke Indonesia, untuk kemudian dikirim ke negara lain setelah mendapatkan dokumen tertentu dari Indonesia. Misalnya, negara A memakai cara ini untuk menghindari tarif timbal balik saat mengimpor barang ke Amerika Serikat.
Menindaklanjuti hal ini, Yuliot meminta Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Eniya Listiani Dewi, untuk mengidentifikasi ulang panel surya mana yang benar-benar diproduksi dalam negeri dan mana yang hasil transshipment.
Dengan mengkategorikan panel surya berdasarkan asal produksinya, Yuliot berharap panel surya produksi domestik dapat terlindungi dari tarif AS.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memberlakukan tarif impor hingga ratusan persen untuk produk panel surya dari Indonesia, India, dan Laos, menurut Departemen Perdagangan AS pada 25 Februari.
Departemen Perdagangan AS mengumumkan tarif sementara sebesar 125,87 persen untuk produk panel surya India, disertai bea tambahan berkisar 86 hingga 143 persen untuk panel surya Indonesia, dan 81 persen untuk yang dari Laos.
Menurut otoritas AS, produk panel surya dari negara-negara ini mendapat keuntungan dari subsidi pemerintah lokal yang tidak adil.
Laporan Bloomberg juga menyatakan bahwa subsidi itu memungkinkan eksportir dari tiga negara tersebut menurunkan harga dan bersaing dengan produsen AS.
Tarif ini dimaksudkan untuk mendorong produksi panel surya domestik di Amerika Serikat.
India, Indonesia, dan Laos menyumbang 57 persen dari seluruh impor panel surya ke AS pada paruh pertama 2025, dengan impor dari India saja mencapai US$792,6 juta pada 2024, meningkat sembilan kali lipat dari nilai impor tahun 2022.
Tarif ini dikenakan setelah keluhan dari produsen AS, yang dalam gugatan pada Juli lalu menuduh produsen China membanjiri pasar AS dengan produk berharga murah yang dibuat di tiga negara Asia tersebut, termasuk Indonesia.
Berita terkait: RI upayakan pertahankan perjanjian nol tarif dengan AS usai putusan pengadilan
Berita terkait: Indonesia yakin tarif nol AS akan bertahan: ahli
Berita terkait: Hasil kesepakatan dagang Indonesia-AS dongkrak stabilitas pasar: GAPMMI
Penerjemah: Putu Indah S, Resinta Sulistiyandari
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2026