Indonesia Berkomitmen Tetap dalam Sistem Multilateral Sambil Dorong Reformasi

Jakarta (ANTARA) – Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan Indonesia akan tetap berada dalam sistem multilateral sambil berupaya mendorong perubahan dari dalam, saat Pernyataan Pers Tahunan Menlu (PPTM) 2026 pada Rabu.

“Indonesia tidak akan mendasarkan kepentingan nasional pada multilateralisme yang tidak berfungsi. Namun, Indonesia juga tidak akan menyerahkan masa depannya pada dunia tanpa aturan. Kami akan tetap di dalam sistem sambil mendorong reformasi dari dalam,” kata Sugiono.

Sugiono mencatat bahwa multilateralisme saat ini menghadapi ancaman serius, karena arsitekturnya tertinggal dari realitas geopolitik, ekonomi, dan keamanan, yang berkembang jauh lebih cepat.

Namun, ia menekankan bahwa multilateralisme tetap menjadi alat strategis untuk memperluas ruang di tengah logika “hard power” yang meningkat dan memastikan bahwa “survival” tidak menjadi permainan “zero-sum”.

Untuk alasan ini, Sugiono menjelaskan, Indonesia memperjuangkan 10 pencalonan penting di berbagai organisasi internasional, yang semuanya berhasil didapat. Prestasi ini mencerminkan kepercayaan masyarakat internasional terhadap rekam jejak diplomasi Indonesia dan prinsip-prinsip multilateralisme itu sendiri.

Partisipasi aktif Indonesia di BRICS, G20, APEC, MIKTA, OECD, dan platform lainnya bertujuan untuk menjembatani kepentingan dan memperluas ruang strategis bagi negara, ujar Sugiono, sambil menekankan bahwa ketahanan dibangun melalui jaringan, bukan isolasi.

Ia menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia di BRICS dan proses menuju keanggotaan OECD bukanlah hal yang saling eksklusif, tetapi justru mencerminkan pendekatan konsisten akan diversifikasi yang selaras dengan politik luar negeri bebas aktif bangsa.

“Saat ini, multilateralisme adalah ekosistem yang bertahan karena diperkuat oleh banyak platform. Keuletan nasional dibangun dengan menjaga kehadiran konsisten di arena-arena ini dengan prinsip jelas dan arah yang kita tentukan sendiri,” kata Sugiono.

Berita terkait: Reformasi multilateral tidak terhindarkan: Prabowo di KTT BRICS

MEMBACA  Jumlah korban tewas dalam serangan mematikan Rusia di Ukraina meningkat menjadi 39, dengan 159 luka-luka.

Berita terkait: Indonesia desak aliansi ASEAN–PBB yang lebih kuat untuk stabilitas global

Berita terkait: Indonesia desak multilateralisme dan transformasi digital di pertemuan ADB

Penerjemah: Cindy, Kenzu
Editor: M Razi Rahman
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar