Jakarta (ANTARA) – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa Indonesia berencana membeli produk energi senilai US$15,5 miliar dari Amerika Serikat (AS).
“Kami baru saja mendiskusikan apa yang akan Indonesia tawarkan ke AS terkait tarif. Kami bahas rencana pembelian energi oleh Indonesia hingga total US$15,5 miliar,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.
Ia menambahkan bahwa pembahasan juga mencakup pengadaan barang pertanian dan rencana investasi, termasuk oleh BUMN serta Lembaga Manajemen Investasi Danantara Indonesia.
“Rencananya, perjanjian atau nota kesepahaman akan ditandatangani antara Indonesia dan mitranya di AS pada 7 Juli 2025,” jelasnya.
Menurut Hartarto, atas instruksi Presiden Prabowo Subianto, komitmen pembelian produk AS ini bisa bersifat jangka panjang.
“Defisit perdagangan AS dengan Indonesia US$19 miliar, tapi nilai pembelian yang kami tawarkan lebih besar, yaitu US$34 miliar,” ungkapnya.
Pemerintah Indonesia berencana menaikkan impor energi dari AS sebagai bagian strategi menyeimbangkan perdagangan kedua negara.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan, menurut data BPS, neraca perdagangan Indonesia dengan AS mencatat surplus sekitar US$14,5 miliar, lebih rendah dari defisit AS.
Karenanya, strategi pemerintah adalah mengimpor LPG, minyak mentah, dan bahan bakar senilai lebih dari US$10 miliar langsung dari AS.
Rencana termasuk menaikkan porsi impor LPG dari AS dari 54% jadi 65–80% dan impor minyak mentah dari kurang dari 4% menjadi lebih dari 40%.
*Penerjemah: Aji Cakti, Raka Adji
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2025*