Jumat, 20 Februari 2026 – 09:50 WIB
VIVA – Kadang-kadang kondisi tubuh tidak selalu segar saat jalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Terkadang, seseorang bisa mengalami masalah kesehatan ringan seperti flu, pilek, atau sesak nafas yang butuh bantuan inhaler atau minyak angin supaya napas jadi lega.
Pertanyaannya, bagaimana hukumnya menghirup inhaler saat puasa? Apakah itu bisa batalin puasa atau tetap boleh dilakukan?
Memahami Rukun dan Hal yang Batalin Puasa
Dalam ilmu fikih, puasa bukan cuma menahan lapar dan haus, tapi juga menahan diri dari hal-hal yang bisa membatalkannya dari terbit fajar sampai maghrib. Selain niat, inti puasa adalah menghindari hal-hal yang membatalkan, seperti makan dan minum.
Mengutip NU Online, para ulama menjelaskan bahwa yang membatalkan puasa bukan cuma aktivitas makan-minum secara langsung, tapi juga memasukkan sesuatu ke dalam rongga tubuh melalui lubang yang terbuka. Penjelasan ini ditegaskan oleh Syekh Zakariya al-Anshari dalam kitab Fathul Wahhab.
Ini menegaskan bahwa yang dimaksud membatalkan puasa adalah masuknya ‘ain, yaitu benda yang punya wujud, lewat saluran terbuka seperti mulut atau hidung, menuju rongga dalam.
Apakah Bau Termasuk ‘Ain’?
Dalam konteks penggunaan inhaler atau minyak angin, yang dihirup pada dasarnya adalah aroma seperti mentol atau mint yang beri sensasi lega di saluran pernapasan. Lalu, apakah aroma tersebut termasuk ‘ain yang membatalkan puasa?
Para ulama menjelaskan bahwa aroma atau bauan tidak termasuk kategori ‘ain. Artinya, menghirup bau-bauan tidak otomatis membatalkan puasa, meski aromanya terasa sampai ke tenggorokan.
Hal ini diterangkan oleh Syekh Abdurrahman Ba’alawi dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin.
Penjelasan ini jadi dasar bahwa menghirup aroma, termasuk dari minyak angin atau inhaler, tidak batalin puasa selama yang masuk cuma berupa bau, bukan benda cair atau padat yang nyata.