Hari Kesehatan Dunia Dorong Perawatan Lansia Berbasis Ilmu Pengetahuan: Kementerian

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa Hari Kesehatan Sedunia 2026 merupakan momentum penting untuk membangun kolaborasi lintas sektor dan menggunakan ilmu pengetahuan sebagai dasar kebijakan kesehatan guna meningkatkan kesejahteraan lanjut usia (lansia).

Imran Pambudi, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, mengatakan pada Selasa bahwa tema peringatan tahun ini adalah "Bersama untuk kesehatan. Berdiri dengan ilmu pengetahuan."

Dia menyebutkan, lebih dari separuh provinsi di Indonesia telah memasuki era populasi menua, dengan proporsi lansia melebihi 10 persen.

"Rasio populasi lansia diproyeksikan meningkat tajam, dari 11 persen pada 2025 menjadi 22,8 persen di 2050. Kondisi kesehatan lansia di Indonesia menunjukkan peningkatan penyakit kronis dan disabilitas seiring bertambahnya usia," ujarnya.

"Sekitar 66 persen responden Survei Penuaan Longitudinal Indonesia (ILAS) melaporkan memiliki beberapa kondisi medis, seperti masalah pencernaan, hipertensi, dan kolesterol," imbuhnya.

Prevalensi gejala yang memerlukan layanan perawatan primer (PJP), kata dia, meningkat dari 11,6 persen secara keseluruhan menjadi 41,9 persen pada kelompok usia di atas 80 tahun.

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024 menunjukkan, sebagian besar lansia, atau 36 persen di antaranya, tinggal di rumah tangga, atau bahkan hidup bersama tiga generasi dalam keluarganya.

Oleh karena itu, diperkirakan bahwa para pengasuh untuk lansia umumnya adalah keluarga mereka sendiri.

Studi Transforming Care: Global Innovations in the Care Economy di Australia mengonfirmasi bahwa ekonomi perawatan adalah bagian besar dari struktur sosial-ekonomi yang seringkali kurang terukur dan kurang didanai.

Secara global, nilai gabungan perawatan berbayar dan tidak berbayar diperkirakan sekitar US$11 triliun per tahun, dengan perawatan tidak berbayar setara dengan sekitar 9 persen dari PDB global dan total jam perawatan tidak berbayar mencapai 16,4 miliar jam per hari.

MEMBACA  Ciuman sepak bola Spanyol 'tercemar' kemenangan Piala Dunia, Hermoso ceritakan di sidang Rubiales

Di beberapa negara, sektor perawatan menyumbang sekitar 15 persen dari angkatan kerja, namun upah rata-rata di sektor ini tetap lebih rendah dari rata-rata industri.

Sementara itu, jam kerja di sektor Kesehatan & Bantuan Sosial telah meningkat 20,1 persen sejak tahun 2016.

Hal ini merepresentasikan beban kerja yang tumbuh cepat tanpa diikuti peningkatan imbalan dan dukungan yang proporsional.

"Beberapa pelajaran penting dari studi Australia ini adalah integrasi layanan melalui tim multidisiplin dan model berpusat pada pelanggan mengurangi fragmentasi dan meningkatkan hasil," katanya.

Program dukungan rumah menunjukkan lonjakan permintaan, dengan pengguna layanan perawatan rumah meningkat dari sekitar 71.900 pada 2017 menjadi 275.000 di 2024, atau naik 283 persen.

Sementara itu, reformasi yang menekankan standar kualitas berbasis hak memperkuat akuntabilitas penyedia layanan. Angka-angka ini menggambarkan urgensi investasi pada tenaga kerja, pelatihan, dan pembiayaan jangka panjang.

Pambudi menyatakan, pengalaman Australia menawarkan beberapa pelajaran praktis yang dapat diadaptasi. Pertama, model integrasi layanan mengurangi fragmentasi dan meningkatkan kelanjutan perawatan.

"Indonesia dapat mengadopsi model ini dengan menjadikan puskesmas dan posyandu lansia sebagai pusat integrasi yang mengoordinasi skrining, rujukan, dan layanan rehabilitasi," tuturnya.

Kedua, adalah pendekatan preventif dan deteksi dini seperti WHO ICOPE dan alat skrining cepat yang terbukti membantu mengidentifikasi risiko fungsional lebih awal.

Menerapkan versi yang disederhanakan dan dikontekstualisasikan dalam layanan primer akan mengurangi rawat inap dan ketergantungan.

"Ketiga, Australia menekankan pengembangan tenaga kerja domestik melalui pelatihan lintas sektor, micro-credentialing, dan jalur karier — sebuah strategi yang relevan untuk mengatasi proyeksi kekurangan pekerja perawatan di Indonesia," jelasnya.

Keempat, digitalisasi dan data untuk memperkuat koordinasi antar penyedia layanan. Pambudi meyakini Indonesia perlu mempercepat pengembangan basis data terpilah dan interoperabilitas sistem.

MEMBACA  Petunjuk, Jawaban, dan Bantuan Strands NYT Hari Ini untuk 2 Sept. #548

Kelima, model pembiayaan jangka panjang dan pengakuan terhadap pengasuh informal adalah kunci keberlanjutan layanan.

"Ketika kebijakan dan praktik didasarkan pada ilmu pengetahuan, intervensi preventif, dan deteksi dini, perawatan yang berpusat pada orang dapat mencegah penurunan fungsi dan memperpanjang kemandirian lansia," pungkas Pambudi.

Berita terkait: Indonesia akan perluas program makan gratis untuk lansia dan disabilitas pada 2026

Berita terkait: Indonesia prioritaskan ibu hamil dan balita dalam program makan gratis

Berita terkait: Kemenkes minta keluarga jamin kenyamanan lansia saat Lebaran

Penerjemah: Mecca Yumna Ning Prisie, Katriana
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar