Empati untuk Korban, Bukan untuk Pelaku!

Sabtu, 16 Mei 2026 – 01:02 WIB

Jakarta, VIVA – Pernyataan Komnas Perempuan yang menolak hukuman kebiri bagi tersangka pencabulan puluhan santriwati di Pati, Jawa Tengah, yaitu Kiai Ashari, memicu polemik luas di media sosial.

Alih-alih mendapat dukungan, sikap lembaga tersebut justru memancing kemarahan publik. Banyak yang menilai perhatian terhadap hak pelaku terlalu besar dibandingkan penderitaan korban. Yuk, scroll buat tahu informasi selengkapnya.

Perdebatan dimulai setelah akun Instagram @jogjastudent mengunggah kutipan pernyataan Ketua Komnas Perempuan, Maria Ulfah Anshor, soal hukuman untuk Kiai Ashari.

Dalam pernyataannya, Maria menilai hukuman kebiri tidak tepat karena dianggap bertentangan dengan hak asasi manusia. Ia bilang masih ada bentuk hukuman lain yang tegas tanpa menghilangkan sisi kemanusiaan pelaku.

"Komnas Perempuan berpendapat sebaiknya tidak dengan kebiri, karena hal itu bersentuhan dengan isu HAM. Ada cara penghukuman lain yang tetap tegas namun tetap menghormati martabat manusia," kata Maria, dikutip Sabtu 16 Mei 2026.

Pernyataan itu langsung jadi bahan perdebatan panas di media sosial. Ribuan komentar bermunculan dan sebagian besar menunjukan kekecewaan terhadap sikap Komnas Perempuan.

Banyak warganet mempertanyakan kenapa lembaga yang selama ini dikenal memperjuangkan hak perempuan justru dianggap lebih fokus membela hak pelaku kekerasan seksual.

"Yang lebih manusiawi ketika kita membela dan berempati kepada para korban, bukan kepada pelaku kejahatan," tulis netizen.

Sentimen serupa juga datang dari banyak netizen lain yang menilai hukuman berat harusnya diberi untuk memberikan efek jera, apalagi korban dalam kasus ini disebut mencapai puluhan orang. Sebagian publik bahkan menyoroti trauma korban yang seringkali tidak dapet perhatian sebesar isu HAM pelaku.

"Ketika pelaku menjalankan kejahatannya apa pernah berpikir tentang HAM korban?" tanya netizen lain menyuarakan kegeraman.

Perbedabatan soal hukuman kebiri sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Tapi kasus yang melibatkan dugaan pencabulan terhadap puluhan santriwati bikin emosi publik makin memuncak. Banyak yang merasa hukuman tegas diperlukan untuk melindungi perempuan dan anak-anak dari kejahatan seksual berulang.

Halaman Selanjutnya
Kemarahan warganet semakin besar ketika muncul anggapan bahwa Komnas Perempuan gagal menunjukan keberpihakan terhadap korban.

MEMBACA  Tablet Android murah yang saya rekomendasikan kepada kebanyakan orang bukan dari Samsung atau TCL

Tinggalkan komentar