Jakarta (ANTARA) – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani menyatakan dinamika global di awal tahun 2026 menuntut diplomasi yang lebih efektif dan berorientasi perdamaian.
Dia mencatat bahwa awal 2026 diwarnai oleh meningkatnya ketegangan dalam hubungan internasional, termasuk konflik bersenjata dan perang dagang yang semakin panas yang mengganggu rantai pasok dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
“Dalam dunia yang saling terhubung, tidak ada bangsa yang bisa berdiri sendiri dan merasa aman. Stabilitas global hanya dapat dicapai melalui kerja sama,” ujar Maharani dalam sidang paripurna penutupan di kompleks parlemen, Jakarta, pada Kamis.
Dia menekankan bahwa tidak ada negara yang bisa maju tanpa kerjasama internasional.
Maharani menegaskan bahwa kerangka kerja sama internasional saat ini dibangun di atas norma dan komitmen bersama, mulai dari standar ekonomi yang mengukur daya saing dan keberlanjutan, hingga nilai-nilai sosial yang menjunjung tinggi martabat manusia, serta prinsip-prinsip demokrasi dan hak asasi manusia sebagai landasan politik yang beradab.
Dalam konteks ini, pembangunan seharusnya tidak hanya diukur dari pertumbuhan angka semata, tetapi dari kualitas hidup manusia dan keadilan sosial yang dirasakan rakyat.
“Karena kita hidup di dunia yang saling ketergantungan, Indonesia harus memperkuat ketahanan dan daya saing nasional untuk mendapatkan posisi tawar yang kuat dalam tatanan global,” jelasnya.
Dia menambahkan bahwa DPR, melalui fungsi-fungsi konstitusionalnya, telah merespons isu-isu strategis, termasuk integritas dalam pengelolaan ekonomi nasional, kebutuhan reformasi hukum, peningkatan perlindungan sosial di bidang kesehatan, dan pelaksanaan politik luar negeri yang bebas dan aktif.
“Situasi global saat ini dicirikan oleh keterbukaan, interkoneksi, dan globalisasi yang semakin intens. Negara-negara tidak lagi berdiri sendiri tetapi terhubung dalam jejaring hubungan ekonomi, sosial, politik, dan budaya,” paparnya.
Berita terkait: Indonesia dan Sekjen PBB dorong perdamaian Palestina, multilateralisme yang lebih kuat
Berita terkait: Indonesia eksplorasi kerja sama keagamaan dengan 12 negara
Berita terkait: Indonesia ungkapkan keprihatinan atas serangan di Gaza, sebut diplomasi Bebas Aktif
Penerjemah: Bagus, Kenzu
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2026