DPR RI desak PBB untuk lakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme perlindungan bagi personil penjaga perdamaian yang bertugas di Lebanon, UNIFIL.
“Kami mendorong PBB untuk secara teliti mengevaluasi mandat dan mekanisme perlindungan bagi pasukan UNIFIL, menyesuaiakan dengan meningkatnya risiko keamanan di lapangan,” ujar Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta dalam pernyataan di Jakarta, Sabtu.
Desakan ini muncul setelah laporan terbaru tentang tewasnya personil penjaga perdamaian Indonesia, Prada Rico Pramudia, yang menambah jumlah tentara Indonesia yang tewas akibat serangan Israel di Lebanon akhir Maret lalu.
Sukamta menekankan perlunya investigasi transparan dan akuntabel terhadap serangan-serangan tersebut, serta memastikan mereka yang bertanggung jawab dihukum. Ia juga mendorong langkah-langkah konkret untuk meningkatkan keslamatan penjaga perdamaian.
“Kami melihat perlindungan bagi personil PBB sebagai prioritas tertier yang tidak boleh diabaikan, termasuk dalam konflik yang melibatkan Israel dan aktor-aktor lain di kawasan,” tegasnya.
Menyinggung pemerintah Indonesia, ia mendesak adanya evaluasi fundamental terhadap kebijakan pengiriman pasukan misi penjaga perdamaian, dan menekankan pendekatan yang hati-hati untuk tidak merusak komitmen Indonesia berkontribusi aktif menjaga stabilitas global.
Selain itu, Sukamta menyampaikan belasungkawa atas kematian Pramudia. Ia menyebut ini sebuah peringatan lain bagi semua pemnu untuk meninjau protokol perdamaian dan memperkuat keselamatan personil.
“Buahkanlah serangan yang terjadi di wilayah operasi UNIFIL mencerminkan eskalasi signifikan yang menempatkan personil penjaga perdamaian pada risiko lebih besar,” ia berkata.
Pada Jumat (24 April) lalu, Kementrian Luar Negeri Indonesia mengkonfirmasi bahwa Pramudia, 31 tahun, meninggal karena luka-luka berat = sama= DIA ternyata serangan pembatal, haha diterjangDIA bakan pembuka