Desakan Kebijakan Perang Iran, Menteri Pertahanan AS Terancam Dicopot

Jumat, 17 April 2026 – 07:10 WIB

VIVA – Partai Demokrat Amerika Serikat dan Partai Republik mengusulkan pemakzulan terhadap Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth. Usulan untuk memakzulkan Hegseth, yang diketahui mendorong kebijakan perang, resmi diajukan pada Rabu 15 April waktu setempat.

Melansir laman Chosun Daily, Jumat 17 April 2026, usulan pemakzulan yang diajukan anggota Partai Demokrat AS ini memuat enam tuduhan. Tuduhan tersebut termasuk pelanggaran terhadap Undang-Undang Konflik Bersenjata dan penyerangan terhadap warga sipil, serta tindakan yang membahayakan keselamatan tentara Amerika Serikat, seperti dilaporkan Axios.

Tak hanya itu saja, dasar tuduhan lainnya mencakup keputusan menyerang Iran tanpa persetujuan Kongres, pertimbangan pengerahan pasukan darat AS, serta dugaan korban sipil akibat serangan udara ke sekolah perempuan di Iran.

Menanggapi usulan pemakzulan tersebut, juru bicara Pentagon, Kingsley Wilson, membantah semua tuduhan itu. Ia mengatakan kepada Axios bahwa langkah tersebut hanyalah upaya Partai Demokrat untuk menarik perhatian media.

Peran Hegseth di Pemerintahan Trump

Peran Hegseth sebagai salah satu pejabat yang paling kontroversial disebut sudah terlihat bahkan sebelum perang dimulai. Sebelum konflik dengan Iran, para penasihat CIA dan sejumlah penasihat Presiden Donald Trump dilaporkan sepakat menilai rencana tersebut sebagai tidak masuk akal dan tidak dapat diterima.

Namun, Hegseth menjadi satu-satunya yang mendukung rencana itu. Ia mengatakan bahwa lebih baik bertindak sekarang. Setelah itu, ia juga langsung menyetujui operasi yang diminta Trump yang disebut Epic Fury.

New York Times melaporkan bahwa di lingkungan dekat Trump, Hegseth dikenal sebagai pihak yang paling keras mendorong opsi perang.

Sejumlah pihak juga menyoroti dugaan bahwa Hegseth tidak menyampaikan informasi yang jujur kepada Trump maupun publik terkait situasi perang di Iran. Washington Post melaporkan bahwa dalam sejumlah pengarahan pers, Hegseth disebut menyampaikan informasi yang tidak akurat. Informasi itu cenderung menggambarkan situasi lebih menguntungkan bagi pihak AS, dan bukan berdasarkan fakta yang objektif.

MEMBACA  Kata-Kata Penentangan: Pemimpin Tertinggi Baru Iran, Mojtaba Khamenei, Mencerca AS | Berita Perang AS-Israel terhadap Iran

Sebelumnya, Hegseth beberapa kali menyatakan bahwa Iran tidak memiliki sistem pertahanan udara yang kuat dan tidak mampu membalas serangan udara AS. Namun, pada tanggal 3 April, sebuah rudal pencari panas milik Iran dilaporkan berhasil menembak jatuh jet tempur F-15 milik AS. Seorang sumber di pemerintahan Trump mengatakan kepada Washington Post bahwa Hegseth tidak menyampaikan kebenaran kepada presiden, sehingga Trump beberapa kali membuat pernyataan berdasarkan informasi yang keliru.

Halaman Selanjutnya

Ada pula tuduhan bahwa Hegseth lebih fokus membangun citra diri dan mempertahankan posisinya. Baru-baru ini, ia disebut melarang fotografer masuk dalam pengarahan pers di Pentagon setelah muncul foto dirinya dari sudut yang tidak diinginkan. Terkait pernyataan Trump yang mengatakan akan melenyapkan satu peradaban, Hegseth menyebutnya sebagai strategi negosiasi yang sangat baik. Namun, media The Guardian mengkritik bahwa ia tidak layak mengawasi operasi militer besar AS. Operasi itu melibatkan sekitar 3 juta personel dan anggaran triliunan dolar, terutama di masa perang.

Tinggalkan komentar