Pendidikan tinggi sering lambat dalam merespon kebutuhan ini, membuat industri mengembangkan program pelatihan sendiri, Jakarta (ANTARA) – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menekankan bahwa rencana menutup program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri harus disertai transformasi kurikulum.
“Keterampilan yang kami ajarkan kepada mahasiswa hari ini, saat mereka mulai kuliah, mungkin hanya akan tetap relevan sekitar 60 persen lima tahun nanti. Itu artinya, saat mereka lulus, banyak pengetahuan mereka sudah tidak bisa lagi diterapkan,” ujarnya di sini, Selasa.
Ia memperingatkan, tanpa memperbarui kurikulum pendidikan tinggi, mahasiswa akan kesulitan beradaptasi dengan tuntutan industri dan tempat kerja yang terus berubah.
Menurut Satria, inisitatif yang diperkenalkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto merupakan bagian dari upaya untuk memastikan sistem pendidikan tinggi Indonesia tidak tertinggal dari pesatnya perkembangan industri.
Ia juga mengatakan, jika Indonesia gagal menghasilkan sumber daya manusia yang handal, risiko kehilangan daya saing akan semakin besar.
Universitas saat ini, terangnya, mulai mengembangkan sistem micro-credential. Program apa ini? Sebenarnya ia hanya modul belajar dengan format yang lebih kecil. Fokusnya adalah keterampilan spesifik dan kebutuhan pasar kerja; bisa diselesaikan hanya dalam hitungan mingguan.
“Micro-credential menjadi sangan penting. Mereka membantu ubah ke "Inggris"?
Tolong translate