Selasa, 24 Maret 2026 – 19:40 WIB
VIVA – Perang Iran adalah sebuah kesalahan yang sangat besar yang membawa bencana dan melanggar hukum internasional. Hal ini dikatakan oleh Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier pada hari Selasa, dalam kritik yang jarang dan sangat keras terhadap kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dia menilai kebijakan itu menjadi titik retak dalam hubungan Jerman dengan sekutu terbesarnya setelah Perang Dunia Kedua.
Irak Tolak Bergabung dalam Operasi di Selat Hormuz
Dalam pernyataan yang cukup tegas, Steinmeier yang perannya kebanyakan seremonial sehingga memberinya ruang untuk berbicara lebih bebas dibanding politisi lain, mengambil sikap yang jauh lebih kritis daripada Kanselir Friedrich Merz, yang cenderung menghindari pertanyaan tentang legalitas perang tersebut.
“Kebijakan luar negeri kita tidak akan menjadi lebih meyakinkan hanya karena kita tidak menyebut pelanggaran hukum internasional sebagai pelanggaran hukum internasional. Kita harus membahas ini terkait perang di Iran. Karena menurut saya, perang ini bertentangan dengan hukum internasional,” kata Steinmeier, mantan menteri luar negeri dari Partai Sosial Demokrat, dalam pidatonya di kementerian luar negeri seperti dikutip dari laman Reuters, Selasa 24 Maret 2026.
PM Jepang Janji Bakal Tempuh Semua Upaya Diplomatik di Selat Hormuz
Steinmeier juga menambahkan bahwa dia meragukan alasan yang menyebut adanya ancaman serangan mendadak terhadap target-target Amerika Serikat.
Steinmeier menyebut perang itu tidak perlu terjadi dan merupakan kesalahan politik yang sangat merugikan. Dia juga menilai masa jabatan kedua Trump menjadi titik perubahan besar dalam hubungan luar negeri Jerman, sedalam dampaknya seperti invasi Rusia ke Ukraina.
Israel Klaim Hantam 4 Markas IRGC di Teheran, Iran Balas dengan Serangan Rudal Beruntun
“Sama seperti saya yakin tidak akan ada kembali hubungan dengan Rusia seperti sebelum 24 Februari 2022, saya juga yakin tidak akan ada kembali hubungan transatlantik seperti sebelum 20 Januari 2025,” ujarnya.
Mengurangi Ketergantungan
Steinmeier mengatakan Jerman harus belajar dari pengalaman ketika berusaha lepas dari ketergantungan berlebihan pada Rusia, dan menerapkan pelajaran itu terhadap Amerika Serikat terutama di bidang pertahanan dan teknologi, yang pada akhirnya berkaitan dengan kekuatan.
Jerman juga menekankan pentingnya menciptakan alternatif terhadap teknologi yang didominasi Amerika Serikat, seiring meningkatnya kekhawatiran atas akses AS ke teknologi tersebut.
China kembali menjadi mitra dagang terbesar Jerman dalam delapan bulan pertama tahun 2025, menggantikan posisi Amerika Serikat karena tarif yang lebih tinggi menekan ekspor Jerman. Nilai perdagangan antara AS dan Jerman sendiri mencapai lebih dari 163 miliar euro (sekitar 190 miliar dolar AS) dalam periode itu.
Halaman Selanjutnya
Perselisihan terbaru antara Pentagon dan Anthropic terkait standar keamanan dalam pengembangan kecerdasan buatan disebut Steinmeier bisa menjadi peringatan, sekaligus peluang bagi Eropa.