Margasatwa Perempuan di Kenya – Para Pria Kikuyu Melawan Rintangan dan Cemoohan

Salah satu orang yang pertama kali berani melanggar kebiasaan soal nama marga laki-laki adalah Peter Kĩgia, seorang musisi Kenya yang memilih nama ibunya sebagai nama panggungnya.

Kĩgia wa Esther (anak dari Esther), yang kini sudah berusia 60-an tahun, dikenal memainkan aliran benga—musik folk gitar yang ritmis dan cepat dengan lirik berbahasa Kikuyu.

“Saat kau pakai nama ibumu, itu tandanya kau sayang dan hormat padanya,” katanya kepada BBC. Ia juga bilang sudah mendaftarkan perusahaan rekamannya dengan nama Wa Esther Productions.

Sekarang, penggunaan nama ibu ini menjadi semacam gengsi di industri musik Kenya. Banyak musisi pria yang lebih muda mengikuti jejaknya. Poster yang menampilkan nama panggung seperti Waithaka wa Jane dan 90K Ka Msoh sering terlihat di papan reklame di ibu kota, Nairobi.

Meskipun begitu, nama resmi para seniman ini tetap memakai nama laki-laki.

Jurnalis Simon Macharia Wanguĩ juga bilang ke BBC kalau ia sengaja memilih nama ibunya sebagai marga resminya.

“Buat apa ngasih kredit untuk orang yang tidak ada jasanya?” ujarnya soal ayahnya yang jarang ada dalam hidupnya. Ia hanya “mendengar kabar angin kalau ayahnya masih hidup”.

Ia dibesarkan oleh neneknya dan baru berusia 12 tahun saat ibunya meninggal pada 2003. Ia tidak punya nama marga sampai kelas tiga SMA, ketika ia mengurus akta kelahiran.

Beberapa orang Kenya masih beranggapan anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal “tidak punya moral yang baik”, jelas Evans Kibe Waceke, seorang penyiar yang memakai marga perempuan.

“Orang melihatmu tidak punya disiplin, apalagi jika kau dibesarkan oleh ibu tunggal,” katanya kepada BBC.

Perdebatan sengit soal pro-kontra penggunaan marga perempuan mulai merebak dua tahun lalu ketika seorang motivator terkenal, Robert Burale, mengatakan hal itu merendahkan kelelakian pria.

MEMBACA  Perempuan India yang Menentang Polisi Moral dan Menjadi Pemenang Kontes Kecantikan

Hal itu lalu mendorong seorang tokoh TV, Fred Mũitĩrĩri, untuk terbuka soal kesulitan yang ia alami karena memakai marga perempuan. Ia akhirnya membuang nama itu dan cuma memakai nama depan Inggris dan bahasa Kikuyu saja.

“Kau tahu betapa malunya seorang anak laki-laki dipanggil pakai nama perempuan di depan teman-teman lainnya?” tulisnya di Facebook—ia bicara soal rendah diri.

“Dari pengalaman itu, saya mulai depresi saat berumur 23 tahun,” ujarnya.

Tinggalkan komentar