Kim Ah-kyung, yang dikenal lewat nama Buddhisnya, Sunhyeji, termasuk salah satu peserta yang datang paling awal.
Perempuan berusia 28 tahun yang ceria ini duduk di teras sebuah bungalow di kompleks kuil, lalu menyapa perempuan-perempuan lain yang mulai berdatangan satu per satu.
Mereka semua berhasil melewati proses seleksi yang sangat ketat, termasuk kuesioner dan video selfie untuk mengukur seberapa serius mereka dalam soal pernikahan dan anak. Mereka mengalahkan lebih dari 1.580 orang lainnya untuk bisa mengikuti retret ini, yang terbuka untuk semua orang tanpa memandang agama.
Sunhyeji kesulitan mencari pasangan yang cocok setelah meninggalkan kawasan Seoul demi pekerjaan kantoran di provinsi sebelah tenggara.
"Tidak ada kesempatan untuk bertemu laki-laki," ujarnya. "Saya cuma bolak-balik antara kerja dan rumah. Saya tidak punya hobi. Sempat mencoba mencari hobi, semuanya solo." Teman-teman kantornya, katanya lagi, semua sudah jauh lebih tua darinya.
Berkencan di Korea Selatan memang bisa sulit.
Orang biasanya menemukan pasangan romantis melalui sekolah, kantor, atau sogaeting, yaitu kencan buta yang diatur oleh teman atau keluarga. Kalau itu belum berhasil, jarang ada orang yang bisa basa-basi di kota-kota besar. Kebiasaan minum juga turun. Aplikasi kencan pun tidak pernah benar-benar populer. Pada 2015, setelah bertahun-tahun pertumbuhan macet, Tinder mulai memasarkan gunanya sebagai aplikasi mencari teman supaya lebih menarik bagi anak muda.
Kwon Seung-oh, 30 tahun, yang memakai nama Enyo, merasa risih bahkan sejak awal soal ide untuk kencani orang asing secara online.
Temannya sudah menjodohkannya lewat sogaeting sekitar 10 kali, tapi tidak ada satu pun puncaknya; kesan dari setiap pertemuan hanayalah dangkal yang tak bermuara. Karena 97% rekan kerjanya di sebuah pabrik besar di luar kota Daegu adalah laki-laki. Jadi, ia bisa ditemui menderita dah te mungkin suksesian tetap di Akhirnya, saat ini tanggal perkumbulan Akk sekala Dong-wilaasa kepada.